Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Friday, June 29, 2012

Contoh Surat Lamaran Kerja

Artikel kali ini adalah contoh surat permohonan lamaran kerja, Silahkan diedit sesuai kebutuhan, dan sesuaikan dengan syarat yang dibutuhkan oleh tempat anda melamar. Surat lamaran ini bisa dipergunakan untuk melamar melalui pos atau email. Jika dikirim melalui pos, silahkan diganti Scan menjadi fotokopi.




Bandung, 1 Juli 2012
Hal: Permohonan Lamaran Kerja

Yth.
HRD Manager Sigodang Pos
Bpk. Ferdinaen
Bandung.

Dengan hormat,
Sehubungan dengan informasi lowongan kerja yang saya peroleh dari harian Siotik Pos tanggal 30 Juni 2012, dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Lengkap:
Tempat/Tgl. Lahir:
Jenis Kelamin:
Pendidikan Akhir:
Alamat:
Telepon (HP):
Email:
Status:

bermaksud mengajukan lamaran pekerjaan pada Perusahaan Sigodang Pos, yang Bapak pimpin. Sebagai bahan pertimbangan, berikut saya lampirkan:

1. daftar riwayat hidup,
2. scan KTP,
3. scan Ijazah terakhir,
4. scan Foto 4 x 6.

Demikian surat lamaran ini saya sampaikan dengan harapan bapak dapat mempertimbangkannya. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.


Hormat saya,

Nama Anda.

Artikel Lainnya

Saturday, May 12, 2012

Buku Tamu

Guestbook atau Buku tamu pindah tayang pada halaman ini. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan kecepatan Loading Sigodang Pos agar lebih ramah pengunjung. Mari menyapa, meninggalkan jejak dan lain sebagainya dengan syarat 1 IP/1URL/1Hour. Terimakasih.

Spirit: Seandainya Saya Jadi CEO Group Bakrie

Puisi SMS Cinta dan Kehidupan
Download E-book Pdf Gratis I
Cintai Aku Saja
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk
Motivasi Sukses Ala Sastra
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar
Puisi SMS AlfenPuisi SMS Alfen
Puisi SMS Icha Marpaung
Puisi SMS Nuy
Kedalaman Sajak
Tips Menjadi Sukses
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk 2
Membangun Penghasilan di Internet
Jejak Sahabat
Puisi-puisi Valentine
Nge-Blok itu Asik
Puisi Anak-anak
Puisi-puisi Valentine 2
Kaya Belum Berarti Sukses
Puisi Media Massa 1
Puisi Media Massa 2
SMA Neg 4 Pematang Siantar
Tak Sekadar Hiburan
Perbedaan Sajak dan Puisi
Sajak Pertanyaan Kepada Tuhan
Cinta di Kos Romantis
Puisi SMS Tri Ayu A
Puisi Al-mauki Solihin
Menggugah Pelestarian Lingkungan dari karya
Puisi Media Massa 3
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar 2
Puisi SMS Rosiana R
Puisi Paskah
Puisi Media Massa 4
Puisi Media Massa 5
Menusuk Sukma
Profil Pengeja Kata
Puisi Aan Rahmaani Mangeshkar
Puisi Media Massa 6
Puisi Media Massa 7
negeriads.com solusi berpromosi
Puisi untuk Cinta
Link Exange Blogger Sejati
komentar Permintaan Over Link
Kata Terindah dari Ayoe
PPCklik.com Media Pertemuan Advertiser dan Publisher
Pesta nge-click para Blogger
Puisi Untuk Sahabat Blogger
Submit Blog atau Web ke Ribuan Servis Ping
Alergi Susu Sapi
Aksi Sadar Alergi pada Bayi
PPC Berbayar Terbaru
Bisnis Online: Harapan dan Cita-Cita Kemandirian Bangsa
Bulan Oktober Bulan Ide

Wednesday, May 9, 2012

Daftar Artikel 2010

Inilah daftar Artikel yang sudah diposting di blog Sigodang Pos selama tahun 2010. Selamat menikmati hidangannya, semoga belum basi.

Puisi SMS Cinta dan Kehidupan
Download E-book Pdf Gratis I
Cintai Aku Saja
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk
Motivasi Sukses Ala Sastra
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar
Puisi SMS AlfenPuisi SMS Alfen
Puisi SMS Icha Marpaung
Puisi SMS Nuy
Kedalaman Sajak
Tips Menjadi Sukses
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk 2
Membangun Penghasilan di Internet
Jejak Sahabat
Puisi-puisi Valentine
Nge-Blok itu Asik
Puisi Anak-anak
Puisi-puisi Valentine 2
Kaya Belum Berarti Sukses
Puisi Media Massa 1
Puisi Media Massa 2
SMA Neg 4 Pematang Siantar
Tak Sekadar Hiburan
Perbedaan Sajak dan Puisi
Sajak Pertanyaan Kepada Tuhan
Cinta di Kos Romantis
Puisi SMS Tri Ayu A
Puisi Al-mauki Solihin
Menggugah Pelestarian Lingkungan dari karya
Puisi Media Massa 3
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar 2
Puisi SMS Rosiana R
Puisi Paskah
Puisi Media Massa 4
Puisi Media Massa 5
Menusuk Sukma
Profil Pengeja Kata
Puisi Aan Rahmaani Mangeshkar
Puisi Media Massa 6
Puisi Media Massa 7
negeriads.com solusi berpromosi
Puisi untuk Cinta
Link Exange Blogger Sejati
komentar Permintaan Over Link
Kata Terindah dari Ayoe
PPCklik.com Media Pertemuan Advertiser dan Publisher
Pesta nge-click para Blogger
Puisi Untuk Sahabat Blogger
Submit Blog atau Web ke Ribuan Servis Ping
Alergi Susu Sapi
Aksi Sadar Alergi pada Bayi
PPC Berbayar Terbaru
Bisnis Online: Harapan dan Cita-Cita Kemandirian Bangsa
Bulan Oktober Bulan Ide

Saturday, December 10, 2011

Pakaian Adat Pernikahan Simalungun

(Pakaian adat Simalungun)


(Pernikahan Abdiel Man Damanik dengan Daoni Rut Tiarma Manurung, menggunakan adat Simalungun.)

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Transkrip Umpasa Simalungun dan Terjemahan

Transkrip Umpasa Simalungun dan Terjemahan

Umpasa Pernikahan I
langdong hondoron gumba
Timbahou sihondoron
Langdong tonggoron rupa
Parlaho sitonggoron

Terjemahan harfiah:
Jangan/memegar kesumba
Tembakau/pagarlah
Jangan melihat/kecantikan
Tingkah-laku/lihatlah

Teks terjemahan:
Jangan memagar kesumba
Pagarlah tembakau
Jangan melihat kecantikan
Lihatlah tingkah-laku

Umpasa Pernikahan II
Uratni pogei purba
Toras hayu ampuspus
Sayur nasiam matua
Horas anak ipupus

Terjemahan harfiah:
Akar/jahe purba
Teras/kayu ampus-pus
Panjanglah/kalian umur
Sukseslah/anak diurus

Teks terjemahan:
Akar jahe purba
Teras kayu ampus-pus
Panjanglah umur kalian
Sukseslah anak diurus

Umpasa Pernikahan III
Onma lading haladi
Lading aek ronuan
Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Terjemahan harfiah:
Inlilah/ladang keladi
Ladangsungai ronuan
Inilah/nyanyian kami
Nyanyian doa restu

Teks terjemahan:
Inilah ladang keladi
Ladang sungai ronuan
Inilah nyanyian kami
Nyanyian doa restu

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Data Keterangan Informan


Nama Informan: Josten Saragih Simarmata (Opung.Elys)
Umur: 76 Tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Petani
Agama: Protestan
Pendidikan: DPPU-AD (Setara SMP)
Suku: Simalungun
Bahasa yang dikuasai: Simalungun


Nama Informan: Wadinson Purba
Umur: 51 Tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Petani
Agama: Protestan
Pendidikan: SMA
Suku: Simalungun
Bahasa yang dikuasai: Simalungun

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Pedoman Wawancara Sastra Lisan

Pedoman Wawancara Sastra Lisan
  1. Nama Informan :
    • Umur :
    • Jenis kelamin :
    • Pekerjaan :
    • Agama :
    • Pendidikan :
    • Suku :
    • Bahasa yang dikuasai :
    • Tanggal/tempat perekaman :
  2. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang umpasa Pernikahan Simalungun? kalau mengetahui bisakah Bapak/Ibu menuturkannya?
  3. Apakah tujuan dari penuturan umpasa tersebut?
  4. Apakah antara sampiran dan isi memiliki hubungan?


..........., ............, 20....
Pewawancara,

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Friday, December 9, 2011

Saran Peneliti

Setelah menyelesaikan penelitian tentang umpasa pernikahan, peneliti menyarankan kepada beberapa pihak, di antaranya bagi masyarakat pada umumnya, bagi peneliti sastra lisan, dan bagi bidang kesusastraan.
  • Bagi masyarakat umum, dengan adanya penelitian ini, ada baiknya jika bisa menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat untuk melestarikan kebudayan bangsa, khususnya umpasa sebagai sastra lisan Simalungun.
  • Bagi peneliti sastra lisan, ada baiknya jika penelitian ini diteruskan dengan objek yang berbeda, karena penelitian ini hanya mengambil salah satu jenis umpasa dari sekian banyak jenis umpasa. Penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam mengkaji masalah-masalah yang sama, khususnya kajian sastra lisan.
  • Bagi bidang kesusastraan, penelitian ini akan lebih baik lagi jika dimanfaatkan sebagai bahan apresiasi dasar penciptaan karya sastra, dan sebagai sumbangan terhadap ilmu sastra.
Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Simpulan tentang Fungsi Umpasa

Umpasa-umpasa pernikahan dalam penelitian ini memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang paling dominan dan selalu ada pada setiap umpasa adalah: pertama, sebagai sistim proyeksi. Kedua, sebagai alat pengesahan pranata sosial atau lembaga kebudayaan.

Sebagai sistim proyeksi. Artinya, ketika umpasa pernikahan dituturkan, si penutur menciptakan suatu proyeksi baru dalam pemikirannya atau hal yang ingin dicapainya (dicita-citakan), yaitu agar kedua mempelai tersebut panjang umur, langgeng dan bahagia.

Sebagai alat pengesahan pranata sosial atau lembaga kebudayaan. Artinya, seseorang yang memberikan nasehat dalam suatu pernikahan, tidak menuturkan umpasa di akhir kata akan terasa hambar, atau terasa kurang sah, dengan kata lain umpasa ini berfungsi sebagai pengaminan. Dengan menuturkan umpasa, kedua orang yang telah menikah tersebut sah dalam adat, begitu juga di dalam masyarakat.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Simpulan Proses Penciptaan

Proses pewarisan pada umpasa pernikahan ini diwariskan berdasarkan sistim pewarisan vertikal, Artinya umpasa ini ditransmisikan secara turun-temurun dari nenek moyang kepada generasi-generasi berikutnya. Dengan kata lain, proses penciptaan umpasa ini dilakukan secara terstruktur dengan sistim pewarisan secara vertikal.

Proses penciptaan umpasa pernikahan dilakukan dengan cara terstruktur. Artinya, pada proses penciptaan si penutur umpasa tersebut melakukan penghafalan teks secara tidak sengaja. Artinya, proses ini telah dilakukan jauh-jauh hari dengan kebiasaan mendengar orang yang berumpasa. Proses penghafalan tersebut ditransmisikan secara turun-temurun dengan proses pewarisan.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Simpulan Konteks Penuturan

Konteks penuturan umpasa terdiri atas konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi meliputi unsur waktu penuturan, tujuan penuturan, peralatan yang digunakan dan teknik penuturan. Konteks budaya meliputi unsur lokasi penuturan, penutur-audiens, latar sosial budaya, kondisi sosial ekonomi.

Waktu penuturan umpasa pernikahan I ini dituturkan saat seorang anak laki-laki ingin mencari pasangan hidupnya. Sedangkan waktu penuturan umpasa pernikahan II dan umpasa Pernikahan III ini dituturkan saat berlangsungnya acara adat pernikahan di Simalungun yang berjuan untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai yang sedang melangsungkan pernikahan.

Penuturan umpasa pernikahan I bertujuan agar anak tersebut tidak hanya melihat kecantikan dalam mencari pendamping hidupnya, namun sebaiknya anak tersebut lebih mengutamakan bagaimana tingkah laku calon pendamping (perempuan) yang akan dinikahinya. Sedangkan umpasa pernikahan II dan III berjuan untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai yang sedang melangsungkan pernikahan.

Teknik penuturan umpasa pernikahan ini dituturkan secara monolog. Ketika si penutur menuturkan umpasa tersebut, pendengar (audiens) tidak membalasnya dengan berumpasa. Sehingga tidak ditemukan adanya Berbalas umpasa, namun biasanya secara sepontan pendengar (audiens) mengamininya, dengan mengucapkan imma tutu (amin).

Kondisi sosial ekonomi masyarakat penutur yang peneliti teliti, yang peneliti lihat dari kemampuan ekonomi, maupun tingkat pendidikan digolongkan kedalam masyarakat menengah kebawah, namun sebagian besar golongan masyarakat kebawah. Masyarakat penutur mayoritas menopang hidupnya dengan mengolah kebun (bertani).

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Simpulan Stuktur Teks Umpasa Sebagai Sastra Lisan

Umpasa pernikahan Simalungun adalah puisi rakyat yang berisi doa restu, yang jumlah lariknya selalu genap, yaitu antara empat larik sampai dua belas larik dalam satu bait, yang dituturkan saat upacara adat pernikahan di masyarakat Simalungun. Unsur-unsur pembentuk umpasa pernikahan Simalungun meliputi: formula sintaksis, formula bunyi (rima, asonansi dan aliterasi), formula irama, diksi, majas dan tema. Keseluruhan unsur-unsur tersebut saling berhubungan satu sama lain dalam membentuk komposisi teks umpasa pernikahan Simalungun.

Pembentukan umpasa sebagian besar didasarkan pada formula. Formula dalam umpasa pernikahan ditemukan formula satu kata. Formula satu kata meliputi formula satu kata dalam kalimat dan formula satu kata antar larik. Formula yang terdapat dalam analisis umpasa pada formula sintaksis adalah formula satu kata antar larik yang ditemukan pada umpasa pernikahan I dan umpasa pernikahan III.

Setiap umpasa pernikahan terdiri atas empat larik. Larik pertama dan kedua sebagai sampiran, larik ketiga dan keempat sebagai isi. Pembentukan kalimat-kalimat pada teks umpasa dibentuk oleh satu larik. kecendrungan pola fungsi subjek pada umpasa pernikahan Simalungun banyak yang dilesapkan. Artinya, pembentukan kalimat dengan pola fungsi subjek yang elips. Hal ini menjadikan kalimat-kalimat dalam umpasa secara keseluruhan banyak yang tidak lengkap.

Kategori yang paling sering muncul adalah kategori kata benda. Hal ini dipengaruhi oleh penggunaan sampiran yang didominasi oleh penggunaan simbol-simbol alam. Peran yang paling sering muncul adalah Pengenal. Hal ini dipengaruhi oleh kategori yang dominan muncul, yaitu kategori kata benda. Karena adanya suatu ciri yang khas dari suatu benda, yang menyebabkan benda itu mudah dikenal.

Unsur bunyi dalam umpasa meliputi rima, asonansi dan aliterasi. Kedua unsur ini menjadikan umpasa menjadi indah dan enak didengar. Selain rima, asonansi dan aliterasi yang langsung berkaitan dengan teks, terdapat juga formula irama yang berkaitan langsung dengan penuturan umpasa pernikahan. Maksudnya, dalam analisis irama tersebut dikaitkan dengan kebiasaan pola irama penutur, yaitu Raja parhata (pemuka adat) dalam menuturkan umpasa pernikahan tersebut.

Pada umpasa pernikahan ditemukan pasangan kata yang membentuk rima, bergantung pada bunyi yang mengakhirinya. Hal ini menjadikan umpasa pernikahan menjadi indah dan enak didengar. Umumnya pada teks umpasa pernikahan ditemukan rima bersilang pada kata terakhir setiap larik di akhir suku kata. Baris pertama berima dengan baris ketiga, sedangkan baris kedua berima dengan baris kempat.

Aliterasi yang paling sering muncul adalah konsonan /r/ bersuara getar, /n/ bersuara nasal, /p/ tidak bersuara, /s/ tidak bersuara dan /d/ bersuara letup. Konsonan-konsonan tersebut berkombinasi dengan vokal /a/, /i/, /u/, /e/ dan /o/. Asonansi yang paling sering muncul adalah bunyi vokal /a/ pada umpasa pernikahan II dan umpasa pernikahan III dan paduan bunyi vokal /o/ pada umpasa pernikahan I. Formula bunyi vokal /a/ dan /o/ menghasilkan bunyi pengucapan terasa ringan. Hal ini disebabkan bunyi-bunyi vokal tidak mengalami hambatan pada alat bicara. Selain itu pengulangan vokal tersebut juga menimbulkan efek pengingat yang sangat terasa pada setiap kata, larik dan keseluruhan larik, yang berpengaruh kepada si penutur dan si penerima tuturan. Artinya, dengan pengulangan vokal tersebut dapat mempermudah proses penghafalan dan proses penciptaan teks umpasa pernikahan.

Umpasa pernikahan selalu dituturkan dengan suara yang jelas. Artinya penutur umpasa tersebut memiliki artikulasi yang masih baik. Hal ini bertujuan agar si pendengar tuturan tersebut mudah memahami dan selalu mengingatnya. Penuturan umpasa pernikahan didominasi oleh nada-nada pendek (∩), dan diakhiri dengan nada-nada sedang (≥) pada setiap larik. Tinggi rendah nada dalam penuturan umpasa didominasi oleh nada-nada rendah (1) dan dibeberapa suku kata ditemukan penekanan (stressing) pada pelafalannya. Artinya, si penutur umpasa melafalkan teks umpasa dengan nada-nada tertentu yang mengidentifikasikan adanya penekanan pada suku kata-suku kata tersebut yang bertujuan untuk mempertegas makna.

Diksi yang digunakan dalam umpasa pernikahan dibagi menjadi dua tingkatan bahasa. Yang pertama bahasa simbol-simbol alam yang terdapat pada sampiran umpasa. Yang kedua menggunakan bahasa biasa yang terdapat pada bagian isi umpasa. Artinya, bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa komunikasi untuk kalangan masyarakat secara luas.

Majas yang terdapat dalam umpasa pernikahan umumnya adalah majas metafora dan repetisi. Akan tetapi majas yang paling dominan adalah majas metafora. Penggunaan majas metafora tersebut menandakan sebagai salah satu ciri kepuitisan teks umpasa pernikahan. karena isi teks atau nasehat kepada mempelai tidak hanya mengandung makna denotasi, tetapi juga mengandung makna konotasi yang lebih dalam.

Tema dalam umpasa pernikahan I, II, dan III pada umumnya berisi nasehat dan doa restu. Pada umpasa pernikahan I terdapat tiga motif yang membentuk tema umpasa tersebut. Motif tersebuat dalah sebagai berikut: 1) aktivitas manusia untuk memberikan nasehat, 2) keadaan atau situasi dalam memilih pasangan hidup 3) penggambaran ciri manusia dengan tumbuhan. Ketiga motif tersebut menghasilkan tema, yaitu teks yang berisi nasehat dalam memilih pasangan hidup, yang digambarkan dengan ciri tumbuhan.

Pada umpasa pernikahan II juga terdapat tiga motif yang membentuk tema. Motif tersebuat dalah sebagai berikut: 1) aktivitas manusia untuk menerima doa restu dari sesama manusia, 2) kokohnya akar dan teras batang tumbuhan 3) penjang umur dan kesuksesan manusia. Ketiga motif tersebut menghasilkan tema, yaitu teks yang berisi doa restu, panjang umur dan kesuksesan manusia yang diumpamakan dengan kokohnya akar dan teras batang tumbuhan.

Pada umpasa pernikahan III terdapat dua motif yang membentuk tema. Motif tersebut adalah sebagai berikut: 1) kekuatan alam (gaib) yang menyertai umpasa pernikahan, 2) aktivitas manusia yang berhubungan dengan pemberian doa restu. Kedua motif tersebut menghasilkan tema, yaitu teks yang memiliki kekuatan dari alam (gaib) yang berkaitan dengan aktivitas manusia dengan tujuan tertentu, yaitu memberi doa restu.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Thursday, December 8, 2011

Fungsi Umpasa Sebagai Sastra Lisan

Umpasa ini memiliki beberapa fungsi, yang pertama sebagai sistim proyeksi. Artinya, ketika umpasa ini dituturkan, kelompok masyarakat yang menuturkan umpasa ini menciptakan sebuah proyeksi baru dalam pemikirannya atau hal yang ingin dicapainya. Si penutur umpasa mencita-citakan agar kedua mempelai yang sedang melangsungkan pernikahan tersebut langgeng dan bahagia hingga akhir hayatnya. Hal ini ditunjukan oleh frasa doding pamasu-masuan (nyanyian doa restu) yang tampak pada larik keempat. Frasa doding pamasu-masuan (nyanyian kami) disini memiliki maksud yang terkandung, yaitu mendoakan (memberikan doa) kepada orang sedang melangsungkan pernikahan. Yang bertujuan, agar kedua mempelai yang melangsungkan pernikahan langgeng dan bahagia.

Yang kedua, sebagai alat pengesahan pranata sosial atau lembaga kebudayaan. Seseorang yang memberikan nasehat tidak menuturkan umpasa di akhir kata akan terasa hambar, atau terasa kurang sah. Artinya, umpasa ini berfungsi sebagai kata pengaminan. Dengan menuturkan umpasa, kedua orang yang telah menikah tersebut sah dalam adat, begitu juga dalam masyarakat. Setiap pernikahan dalam masyarakat Simalungun meyakini bahwa tidak adanya perpisahan, selain perpisahan yang dipisahkan oleh kematian.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Proses Penciptaaan dan Pewarisan

Proses pewarisan pada umpasa pernikahan ini diwariskan berdasarkan sistim pewarisan vertikal, Artinya umpasa ini ditransmisikan secara turun-temurun dari nenek moyang kepada generasi-generasi berikutnya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan bagan proses pewarisan umpasa pernikahan berikut.

Bagan
Proses Pewarisan


Dari bagan di atas, umpasa pernikahan ini ditransmisikan secara vertikal antara si penutur dengan si penerima umpasa dan audiens. Artinya, umpasa ini dituturkan dari orang yang lebih tua (Pemuka adat dan pihak perempuan yang ingin memberikan nasehat) khususnya kepada orang yang lebih muda (yang melangsungkan pernikahan) dan masyarakat luas (audien) secara umum. Hal ini dipengaruhi oleh ketatnya sistim budaya.

Proses penciptaan umpasa pernikahan III ini dilakukan dengan cara terstruktur. Artinya, pada proses penciptaan si penutur umpasa tersebut melakukan penghafalan teks secara tidak sengaja. Artinya, proses ini telah dilakukan jauh-jauh hari dengan kebiasaan mendengar orang yang berumpasa. Proses penghafalan tersebut ditransmisikan secara turun-temurun dengan proses pewarisan.

Dengan kata lain, proses penciptaan umpasa ini dilakukan secara terstruktur dengan sistim pewarisan secara vertikal, sehingga tidak ditemukan adanya perubahan teks umpasa sejak diwariskan hingga masa sekarang. Proses ini dipermudah dengan adanya kombinasi formula sintaksis, formula bunyi dan rima dalam proses penciptaan, sehingga memperlancar sistim pewarisan.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Menganalisis Konteks Penuturan

Konteks penuturan umpasa terdiri dari konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi meliputi unsur waktu penuturan, tujuan penuturan, peralatan yang digunakan dan teknik penuturan. Konteks budaya meliputi unsur lokasi penuturan, penutur-audiens, latar sosial budaya, kondisi sosial ekonomi.

Konteks Situasi
Konteks situasi adalah unsur atau hal-hal yang berkaitan langsung dengan peristiwa pertunjukan. Waktu penuturan umpasa pernikahan III ini dituturkan saat berlangsungnya acara adat pernikahan di Simalungun yang berjuan untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai yang sedang melangsungkan pernikahan.

Dalam acara adat pernikahan tersebut penutur umpasa menggunakan pakayan adat yang disebut dengan ulos. Ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri. Ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, sedangakan penutup kepala pria disebut gotong.

Teknik penuturan umpasa ini dituturkan secara monolog. Ketika si penutur menuturkan umpasa tersebut, pendengar (audiens) tidak membalasnya dengan berumpasa. Sehingga tidak ditemukan adanya Berbalas umpasa, namun biasanya secara sepontan pendengar (audiens) mengamininya, dengan mengucapkan imma tutu (amin).

Konteks Budaya
Lokasi pengambilan data dalam penelitian umpasa ini yaitu di Desa Sigodang, Kecamatan Panei Tongah, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Bahasa yang digunakan penduduk sehari-harinya adalah bahasa Simalungun Asli. Artinya bahasa Simalungun tersebut tidak terkontaminasi dengan bahasa batak lainnya, ataupun bahasa Indonesia.

Penutur dan audiens memiliki hubungan yang sangat terikat dalam penuturan umpasa pernikahan ini. artinya setelah penutur menuturkan umpasa pernikahan ini, orang-orang (audiens) yang menyaksikan pernikahan tersebut secara sepontan mengamininya, dengan mengucapkan imma tutu (amin). Hal ini melengkapi cita-cita Si penutur umpasa tersebut, yaitu agar kedua mempelai tersebut oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan bahtera rumah tangganya.

Orang yang menuturkan umpasa ini adalah pihak boru (pihak dari keluarga perempuan). Audiens dalam penuturan umpasa ini adalah penduduk desa dan keluarga terdekat yang diundang hadir. Pakaian yang digunakan adalah pakayan adat yang disebut dengan ulos. Ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri. Ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, sedangakan penutup kepala pria disebut gotong.

Latar sosial budaya meliputi peristiwa dan kebiasaan yang melatar belakangi penuturan umpasa. Umpasa Pernikahan ini dituturkan ketika memenuhi adat pernikahan, atau di Simalungun disebut mangadati. Acara adat dalam sebuh pernikahan adalah merupakan kewajiban, karena keluarga yang belum menerima adat pernikahan ini tidak boleh menerima hak-haknya di dalam adat. Misalnya seorang keluarga yang belum melaksanakan adat pernikahan, tidak boleh menikahkan anaknya dengan adat pernikahan, dengan demikian keluarga tersebut merasa terkucilkan diantara masyarakat lainnya di daerah tersebut. hal ini menjadi beban mental bagi sebuah keluarga yang belum melaksanakan kewajiban adatnya.

Dalam Pernikahan Simalungun, Raja parhata (pemuka adat) merupakan pemeran utama dalam acara pernikahan mulai dari awal hingga akhir pernikahan. pemuka adat berperan dalam memberikan waktu kepada pihak perempuan dalam melakukan kewajiban adatnya. Setiap pihak keluarga yang berkepentingan mendapatkan kesempatan untuk memberikan nasehat dan menuturkan umpasa yang berhungan dengan pemberian doa restu, salah satunya umpasa pernikahan III ini.

Pada saat adat pernikahan berlangsung, pihak keluarga perempuanlah yang berkewajiban melaksanakan adat kepada pihak laki-laki. Semua pihak perempuan yang berkepentingan memberikan ulos kepada mempelai. Setiap keluarga dari pihak perempuan yang memberikan ulos tersebut dibarengi dengan pemberian nasehat, dan diakhiri dengan menuturkan umpasa ini sebagai penutup nasehat.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat penutur yang peneliti teliti, yang peneliti lihat dari kemampuan ekonomi, maupun tingkat pendidikan digolongkan kedalam masyarakat menengah kebawah, namun sebagian besar golongan masyarakat kebawah. Masyarakat penutur mayoritas menopang hidupnya dengan mengolah kebun (bertani).

Pendidikan masyarakat penutur sebagian besar lulusan SMP. Namun, hal ini semakin hari semakin berubah. Perkembangan zaman meningkatkan kesadaran masyarakat penutur semakin tinggi untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi. Generasi penutur sudah banyak yang mengenyam pendidikan hingga SMA bahkan sampai perguruan tinggi.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Analisis Isotopi yang Membentuk Tema

Analisis tema menggunakan teori isotopi yang dikemukakan oleh Greimas. Dalam kajian ini, suatu kata atau frasa akan diidentifikasi sebagai sesuatu yang mewakili suatu gagasan. Dalam umpasa Pernikahan III tersebut ditemukan beberapa isotopi, yang mendukung tema.

Dalam umpasa ini terdapat kata yang masuk dalam isotopi manusia, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Manusia


Komponen makna bersama dari isotopi manusia yaitu, tubuh/roh, berakal budi, aktivitas. Hal ini menunjukan bahwa nami mampu melakukan sesuatu hal, karena dari komponen makna bersama manusia (nami) memiliki kompenen tubuh/roh, berakal budi dan aktivitas.

Dalam umpasa pernikahan ini, terdapat isotopi alam, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Alam


Komponen makna bersama dari isotopi alam adalah angkasa, bumi dan kehidupan. Kata lading dan aek mengandung komponen makna yang berkaitan dengan alam. Komponen makna bersama yang paling menonjol adalah bumi dan kehidupan. Isotopi alam ini mengidentifikasikan bahwa umpasa pernikahan ini digunakan untuk kehidupan yang ada di bumi. Artinya, digunakan untuk kebahagiaan hidup di bumi. Sungai dan ladang sebagai sumber kehidupan, air sebagai sumber pelepas rasa haus, dan ladang sebagai sumber pelepas rasa lapar. Hal ini tampak pada komponen makna bersama, yaitu makna bersama kehidupan.

Dalam umpasa pernikahan ini terdapat isotopi kekuatan, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Kekuatan


Komponen makna bersama dari isotopi kekuatan, yaitu Tuhan, Gaib dan sifat. Kata pamasu-masuan dan doding mengandung komponen makna yang berkaitan dengan kekuatan. Komponen makna yang paling menonjol adalah gaib dan sifat.

Selain isotopi-isotopi tersebut, terdapat juga isotopi tumbuhan, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Tumbuhan


Komponen makna bersama dari isotopi tumbuhan adalah akar/batang, bunga/daun, tumbuh. Kata haladi memiliki makna keladi yang memiliki komponen makna bersama akar/batang, bunga/daun, tumbuh.

Isotopi-isotopi tersebut dianalisis berdasarkan makna bersama. Dari analisis isotopi-isotopi di atas akan membentuk motif-motif yang nantinya akan membentuk tema secara keseluruhan pada isi umpasa pernikahan III ini. Isotopi tumbuhan dan isotopi alam membentuk motif kekuatan alam (gaib) yang menyertai isi umpasa pernikahan tersebut. Isotopi manusia dan isotopi kekuatan membentuk motif aktivitas manusia yang berhubungan dengan pemberian doa restu.

Semua isotopi yang dianalisis merupakan sesuatu kesatuan yang membentuk motif-motif yang mengerucut pada pembentukan sebuah tema teks. Isotopi yang telah dianalisis di atas meliputi isotopi tumbuhan, isotopi alam, isotopi manusia dan isotopi kekuatan. Isotopi tersebut membentuk dua motif. Motif yang pertama yaitu, kekuatan alam (gaib) yang menyertai umpasa pernikahan dan motif yang kedua yaitu, aktivitas manusia yang berhubungan dengan pemberian doa restu. Dari analisis di atas disimpulkan bahwa teks umpasa pernikahan III tersebut merupakan teks yang berisi doa restu yang memiliki kekuatan alam (gaib) yang berkaitan dengan aktivitas manusia dengan tujuan memberikan doa restu. Hal gaib tersebut sudah digantikan oleh kekuatan Tuhan, setelah masuknya agama ke Simalungun. Untuk lebih jelasnya mengenai pembentukan motif-motif berdasarkan isotopi-isotopi yang dianalisis hingga membentuk tema, maka berikut bagan dari analisis isotopi-isotopi di atas.

BAGAN
Pembentukan Tema Umpasa Pernikahan III


Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Menganalisis Majas

Selain diksi ditemukan juga penggunaan majas dalam umpasa Pernikahan III. Untuk lebih jelasnya, berikut analisis majas.

Repetisi
Dalam umpasa ini ditemukan repetisi, yaitu perulangan bunyi, suku kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting. Pengulangan ini biasanya memberikan efek penekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Hal itu tampak pada larik berikut.

Onma lading haladi
Lading aek ronuan

Dalam kedua larik tersebut terdapat pengulangan kata lading. Pengulangan kata lading terjadi pada larik pertama dan kedua. Repetisi juga tampak pada kata doding. Hal itu tampak pada larik berikut.

Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Pengulangan kata doding terjadi pada larik ketiga dan keempat. Selain repetisi kata lading dan doding, ditemukan juga repetisi kata onma. Pengulangan Kata Onma terjadi pada larik pertama dan ketiga. Hal itu tampak pada larik berikut.

Onma lading haladi
Onma doding nami

Pengulangan kata lading, doding dan onma memberikan efek ritmis (berirama) sehingga mewujudkan keidahan dan keharmonisan bahasa umpasa yang bertujuan untuk menciptakan sebuah kesatuan dalam membangun sebuah unsur stilistik dalam karya sastra lisan.

Selain memberikan efek ritmis, juga memberikan efek intensitas (kedaan tingkatan) pada kata lading, doding dan onma. Pengulangan kata lading, doding dan onma menunjukkan penegasan mengenai apa yang ingin ditunjukkan oleh si penutur kepada si penerima umpasa, yang dinyatakan dengan kata lading, doding dan onma tersebut.

Metafora
Selain majas tersebut di atas, terdapat juga majas metafora. Metofora adalah perbandingan tanpa kata perbandingan. Metafora tampak pada larik berikut.

Onma lading haladi
Lading aek ronuan
Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Larik yang termasuk dalam metafora terdapat pada sampiran umpasa. Frasa lading haladi (ladang keladi) diumpamakan dengan doding nami (nyanyian kami), sedangkan frasa aek ronuan (sungai ronuan) diumpamakan dengan doding pamasu-masuan (nyanyian doa restu).

Penggunaan frasa Aek ronuan merupakan pengungkapan teks yang puistis, karena tidak hanya mempunyai makna yang sekadar denotasi, tetapi memiliki makna secara konotasi. Secara konotasi Aek ronuan bisa bermakna sungai pengharapan, sungai pemberian dan air kehidupan. Efek dari penggunaan metofora ini adalah agar teks umpasa tampak dan terdengar lebih indah, disamping hakikat atau esensi dari teks ini, yaitu pengejaran makna yang lebih dalam.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Menganalisis Diksi

Pada umpasa pernikahan III tersebut bahasa yang digunakan dibagi menjadi dua tingkatan bahasa. Yang pertama bahasa simbol. Artinya, bahasa yang digunakan dalam umpasa ini adalah bahasa simbol-simbol alam yang memiliki makna secara konotasi. hal ini dapat dilihat pada bagian sampiran berikut:

Onma lading haladi
Lading aek ronuan

Kata lading haladi ‘ladang keladi’ berkonotasi dengan ‘orang banyak’, sedangkan kata aek ronuan ‘sungai ronuan’ berkonotasi dengan ‘limpahan berkat’. Pilihan kata dengan menggunakan simbol-simbol alam tersebut memiliki kekuatan makna yang sangat kuat, dan erat dengan ciri kepuitisan bahasa yang terkandung didalamnya, dengan artian umpasa ini memiliki pemaknaan yang lebih dalam, dan teks tampak dan terdengar lebih indah.

Yang kedua, menggunakan bahasa biasa. Artinya, bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa komunikasi untuk kalangan masyarakat secara luas. ha ini untuk kelancaran proses komunikasi antarara si penutur dengan kepada siapa umpasa itu dituturkan, dengan kata lain umpasa yang dituturkan dapat dengan mudah dipahami. hal ini dapat dilihat pada bagian isi berikut:

Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Ragam bahasa yang digunakan dalam bagian isi umpasa ini lebih komunikatif, dibandingan umpasa pada bagian sampiran. Pada bagian sampiran pemilihan kata dan simbol-simbol alam lebih ketat, sedangkan pada bagian isi menggunakan bahasa biasa, yaitu bahasa sehari-hari yang dipergunakan masyarakat.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Analisis Formula Irama

Umpasa Pernikahan selalu dituturkan dengan suara yang jelas, Artinya, penutur umpasa tersebut memiliki artikulasi yang masih baik. Hal ini bertujuan agar audiens tersebut dapat memahami dan selalu mengingatnya. Pada hakikatnya umpasa ini dituturkan dengan irama yang sama, mengikuti kebiasaan pola irama yang sering diucapkan oleh seseorang pemuka adat. Hal ini disebabkan kebiasaan meniru pemimpin yang selalu dianggap paling pandai menguasai adat di masyarakat.

Dalam analisis irama, akan dilihat pada suku kata yang memiliki nada panjang, sedang dan pendek. Kemudian akan dilanjutkan dengan analisis tinggi, sedang dan rendah nada pada setiap suku kata. Untuk lebih jelasnya, teks yang dianalisis diberi tanda tertentu yaitu: tanda (–) menandakan nada yang panjang, tanda (≥) menunjukan nada yang sedang, tanda (∩) menandakan nada pendek. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut:

TABEL
Formula Irama

Formula irama pada teks umpasa pernikahan III. Dari tabel di atas diperoleh gambaran yang lebih spesifik. Gambaran tersebut diantaranya adalah panjang nada yang dipakai dalam penuturan teks ini didominasi oleh nada pendek (∩) yang mendominasi semua larik. Sedangkan nada-nada sedang (≥) mendominasi setiap akhir larik.

Untuk lebih jelas mengenai nada tinggi, sedang dan rendah pada setiap suku kata, teks yang dianalisis diberi tanda tertentu yaitu: tanda (1) menandakan nada rendah, tanda (2) menandakan nada sedang, dan tanda (3) menunjukan nada yang tinggi. Analisis sebagai berikut:


Dari analisis di atas diperoleh gambaran bahwa tinggi rendah nada saat teks ini dituturkan didominasi oleh nada rendah (1). Nada-nada sedang (2) ada di beberapa suku kata dan nada tinggi (3) juga terdapat dibeberapa suku kata. Nada tinggi (3) menandakan penekanan pada pelafalannya. Penekanan pada teks umpasa terjadi pada suku kata-suku kata berikut:

Onma lading haladi
Lading aek ronuan
Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Suku kata yang bercetak tebal menandakan adanya penekanan (stressing) pada pelafalannya. Artinya, si penutur umpasa III ini melafalkan teks umpasa dengan nada-nada tertentu yang mengidentifikasikan adanya penekanan pada suku kata-suku kata tersebut. Penekanan ini juga merupakan sebuah indikasi tersendiri bagi si penutur untuk memberikan efek penegasan. Khususnya pada akhiran kata Onma, yaitu suku kata ma yang memiliki tingkat penekanan sangat tinggi, yang terdapat pada larik pertama dan kedua. Kata ma (lah) disini menjadi penegas penunjuk suatu hal kepada audiens atau si penerima umpasa. Kata ma tersebut menegaskan frasa lading haladi (ladang keladi) dan frasa doding nami (nyanyian kami).

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Analisis Formula Bunyi

Adapun formula bunyi yang dibicarakan adalah rima, asonansi dan aliterasi. Untuk lebih jelasnya, berikut analisisnya.

Rima
Dalam umpasa pernikahan III ini juga ditemukan pasangan kata yang membentuk rima bergantung pada bunyi yang mengakhirinya. Hal inilah yang menjadikan umpasa ini indah dan enak didengar. Untuk lebih jelas perhatikan teks berikut:

Onma lading haladi
Lading aek ronuan
Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Rima dalam umpasa tersebut membentuk rima bersilang. baris pertama berima dengan baris ketiga, sedangakan baris kedua berima dengan baris keempat. Kata haladi berpasangan dengan kata nami, kedua kata ini memiliki rima tidak sempurna, karena hanya sebagian suku kata akhir yang sama. Kata ronuan berpasangan dengan kata pamasu-masuan. Kedua kata ini memiliki rima yang sempurna, karena seluruh akhir suku kata berirama sama.

Selain rima bersilang ditemukan juga rima sebaris. Hal ini ditunjukan dengan adanya pasangan bunyi yang sama dalam sebaris. Untuk lebih jelas perhatikan teks berikut.

Onma lading haladi
Onma doding nami

Pada larik pertama, suku kata ding pada kata lading memiliki pasangan bunyi dengan suku kata di pada kata haladi. kedua kata ini membentuk rima sempurna dalam sebaris. Pada larik ketiga, suku kata ding pada doding memiliki pasangan bunyi dengan suku kata mi pada kata nami. Kedua kata ini memiliki rima yang tidak sempurna. Pasangan bunyi yang sama (berima) tersebut juga memberikan efek keindahan dalam umpasa.

Asonansi dan Aliterasi
Pada larik pertama, terjadi pengulangan bunyi vokal /a/ dan vokal /i/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan. Bunyi vokal /o/ dan /a/ berkombinasi dengan konsonan /n/ bersuara dan /m/ bersuara pada kata /onma/. Vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /l/ bersuara, /d/ bersuara dan /ng/ bersuara nasal pada kata /lading/. vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /h/ tak bersuara, /l/ bersuara dan /d/ bersuara pada kata /haladi/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama, kedua dan ketiga menyebabkan asonansi lancar. Paduan bunyi vokal /i/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua dan ketiga menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah mengalami hentakan. Sedangkan bunyi vokal /o/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansi lancar.

Larik kedua, terjadi pengulangan bunyi vokal /a/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan. Vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /l/ bersuara, /d/ bersuara letup dan /ng/ bersuara nasal pada kata /lading/. Vokal /a/ dan /e/ berkombinasi dengan konsonan /k/ tak bersuara pada kata /aek/. Vokal /a/, /o/ dan /u/ berkombinasi dengan konsonan /r/ bersuara getar dan /n/ bersuara nasal pada kata /ronuan/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama, kedua dan ketiga menyebabkan asonansi lancar. Vokal /i/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansinya seolah-olah mengalami hentakan. Vokal /o/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata ketiga menyebakan bunyi asonansi lancar. Vokal /u/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata ketiga menyebabkan asonansi lancar.

Pada larik ketiga, terjadi pengulangan bunyi vokal yang sama, yaitu vokal /o/, /a/ dan /i/. Vokal /a/ dan /o/ berkombinasi dengan konsonan /n/ bersuara nasal dan /m/ bersuara nasal pada kata /onma/. Vokal /o/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /d/ bersuara letup dan /ng/ bersuara nasal pada kata /doding/. Vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /n/ bersuara nasal dan /m/ bersuara nasal pada kata /nami/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama dan ketiga menyebabkan bunyi asonansi lancar. Paduan bunyi vokal /o/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansi lancar, sedangkan vokal /o/ pada kata kedua menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah mengalami hentakan. Paduan bunyi Vokal /i/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua seolah-olah mengalami hentakan, sedangkan vokal /i/ pada pada kata ketiga menyebabkan bunyi asonansi lancar.

Pada larik keempat, terjadi pengulangan bunyi vokal /a/ dan /u/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan. Vokal /o/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /d/ bersuara letup dan /ng/ bersuara nasal pada kata /doding/. Vokal /a/ dan /u/ berkombinasi dengan konsonan /p/ tak bersuara, /m/ bersuara nasal, /s/ tak bersuara dan /n/ bersuara nasal pada kata /pamasu-masuan/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua menyebabkan bunyi asonansi kurang lancar. Paduan bunyi vokal /u/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua menyebabkan bunyi asonansi kurang lancar. Paduan bunyi vokal /o/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah ada hentakan. Paduan bunyi vokal /i/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama juga menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah ada hentakan.

Untuk lebih jelas hasil analisis bunyi, dibawah ini dicantumkan bentuk-bentuk bunyi vokal dan bunyi konsonan teks umpasa III.

TABEL
Bunyi Vokal dan Bunyi Konsonan


Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pengulangan bunyi vokal /a/ terjadi pada setiap larik dan diulang sebanyak tiga belas kali dalam keseluruhan larik. Formula bunyi vokal /a/ tersebut menghasilkan bunyi efek pengucapan yang ringan, karena bunyi vokal /a/ diucapkan tidak mengalami hambatan pada alat bicara. Pengulangan vokal /a/ pada teks umpasa pernikahan III ini juga menimbulkan efek ‘pengingat’ yang sangat terasa dan berpengaruh besar kepada si penutur maupun kepada audiens. Artinya, dengan pengulangan vokal /a/ pada teks ini dapat memudahkan proses penghafalan dan penciptaan teks umpasa. Selain itu, pengulangan vokal /a/ juga menggambarkan kegembiraan kepada keluarga kedua belah pihak.

Aliterasi yang paling sering muncul adalah bunyi konsonan /d/ bersuara letup. Bunyi Konsonan ini sangat terasa sekali pada setiap larik. Bunyi ini diulang sebanyak tujuh kali dalam keseluruhan larik. Selanjutnya konsonan /n/ dan /m/ bersuara nasal, kedua konsonan ini diulang sebanyak lima kali dalam keseluruhan larik. Yang terakhir adalah konsonan /ng/. Konsonan ini juga terdapat pada setiap larik, diulang sebanyak empat kali. Formula ini memberikan efek ‘pengingat’ dengan kata lain formulasi ini menjadi alat pembantu pengingat dalam mempermudah proses penghafalan dan penciptaan teks umpasa.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)