Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, May 12, 2012

Buku Tamu

Guestbook atau Buku tamu pindah tayang pada halaman ini. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan kecepatan Loading Sigodang Pos agar lebih ramah pengunjung. Mari menyapa, meninggalkan jejak dan lain sebagainya dengan syarat 1 IP/1URL/1Hour. Terimakasih.

Spirit: Seandainya Saya Jadi CEO Group Bakrie

Puisi SMS Cinta dan Kehidupan
Download E-book Pdf Gratis I
Cintai Aku Saja
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk
Motivasi Sukses Ala Sastra
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar
Puisi SMS AlfenPuisi SMS Alfen
Puisi SMS Icha Marpaung
Puisi SMS Nuy
Kedalaman Sajak
Tips Menjadi Sukses
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk 2
Membangun Penghasilan di Internet
Jejak Sahabat
Puisi-puisi Valentine
Nge-Blok itu Asik
Puisi Anak-anak
Puisi-puisi Valentine 2
Kaya Belum Berarti Sukses
Puisi Media Massa 1
Puisi Media Massa 2
SMA Neg 4 Pematang Siantar
Tak Sekadar Hiburan
Perbedaan Sajak dan Puisi
Sajak Pertanyaan Kepada Tuhan
Cinta di Kos Romantis
Puisi SMS Tri Ayu A
Puisi Al-mauki Solihin
Menggugah Pelestarian Lingkungan dari karya
Puisi Media Massa 3
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar 2
Puisi SMS Rosiana R
Puisi Paskah
Puisi Media Massa 4
Puisi Media Massa 5
Menusuk Sukma
Profil Pengeja Kata
Puisi Aan Rahmaani Mangeshkar
Puisi Media Massa 6
Puisi Media Massa 7
negeriads.com solusi berpromosi
Puisi untuk Cinta
Link Exange Blogger Sejati
komentar Permintaan Over Link
Kata Terindah dari Ayoe
PPCklik.com Media Pertemuan Advertiser dan Publisher
Pesta nge-click para Blogger
Puisi Untuk Sahabat Blogger
Submit Blog atau Web ke Ribuan Servis Ping
Alergi Susu Sapi
Aksi Sadar Alergi pada Bayi
PPC Berbayar Terbaru
Bisnis Online: Harapan dan Cita-Cita Kemandirian Bangsa
Bulan Oktober Bulan Ide

Wednesday, May 9, 2012

Daftar Artikel 2010

Inilah daftar Artikel yang sudah diposting di blog Sigodang Pos selama tahun 2010. Selamat menikmati hidangannya, semoga belum basi.

Puisi SMS Cinta dan Kehidupan
Download E-book Pdf Gratis I
Cintai Aku Saja
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk
Motivasi Sukses Ala Sastra
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar
Puisi SMS AlfenPuisi SMS Alfen
Puisi SMS Icha Marpaung
Puisi SMS Nuy
Kedalaman Sajak
Tips Menjadi Sukses
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk 2
Membangun Penghasilan di Internet
Jejak Sahabat
Puisi-puisi Valentine
Nge-Blok itu Asik
Puisi Anak-anak
Puisi-puisi Valentine 2
Kaya Belum Berarti Sukses
Puisi Media Massa 1
Puisi Media Massa 2
SMA Neg 4 Pematang Siantar
Tak Sekadar Hiburan
Perbedaan Sajak dan Puisi
Sajak Pertanyaan Kepada Tuhan
Cinta di Kos Romantis
Puisi SMS Tri Ayu A
Puisi Al-mauki Solihin
Menggugah Pelestarian Lingkungan dari karya
Puisi Media Massa 3
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar 2
Puisi SMS Rosiana R
Puisi Paskah
Puisi Media Massa 4
Puisi Media Massa 5
Menusuk Sukma
Profil Pengeja Kata
Puisi Aan Rahmaani Mangeshkar
Puisi Media Massa 6
Puisi Media Massa 7
negeriads.com solusi berpromosi
Puisi untuk Cinta
Link Exange Blogger Sejati
komentar Permintaan Over Link
Kata Terindah dari Ayoe
PPCklik.com Media Pertemuan Advertiser dan Publisher
Pesta nge-click para Blogger
Puisi Untuk Sahabat Blogger
Submit Blog atau Web ke Ribuan Servis Ping
Alergi Susu Sapi
Aksi Sadar Alergi pada Bayi
PPC Berbayar Terbaru
Bisnis Online: Harapan dan Cita-Cita Kemandirian Bangsa
Bulan Oktober Bulan Ide

Thursday, November 17, 2011

Si Aku dan Kematian

Kematian dan Si Aku telah menjadi sahabat sejak kehidupan dimulai. Si Aku hanya percaya kepada kematian, bukan pada kehidupan yang tak pernah dipikirkannya sebelumnya. Kematian akan selalu menjadi penantian hingga ajal tiba.

Kehidupan bergerak berjalan sedemikian rupa, namun kematian akan menghentikannya dalam seketika. Tanpa menjawab jutaan pertanyaan, permohonan, kesedihan. Ya, begitulah kematian, hadir tanpa alasan dalam teka-teki kehidupan.

Kematian merasuk pada setiap yang bernyawa hingga menjadikannya tiada. Entahlah! Sampai kapan, namun yang pasti kematian akan tetap menjadi penantian. dan yang pasti, kematian akan dialami setiap insan yang bernyawa.

Ilmu pengetahuan bukanlah jawaban, tapi hanya sekadar penghiburan yang tak berarti apa-apa. Karena bukan sebuah kesalahan yang menjadikannya tiada, tapi ajallah yang bersorak-sorai memanggilnya dengan gembira.

Lalu setelah kematian? Setelah kematian, tidak ada yang dapat kuceritakan. Semuanya masih seperti Tanda (?). Si Aku hanya dapat berserah, karena semuanya terserah pada pemilikNya.

Si Aku Lainnya

Thursday, November 3, 2011

Follow

Setelah di follow, jangan lupa lapor di kolom komentar atau di Buku Tamu.


Puisi SMS Cinta dan Kehidupan
Download E-book Pdf Gratis I
Cintai Aku Saja
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk
Motivasi Sukses Ala Sastra
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar
Puisi SMS AlfenPuisi SMS Alfen
Puisi SMS Icha Marpaung
Puisi SMS Nuy
Kedalaman Sajak
Tips Menjadi Sukses
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk 2
Membangun Penghasilan di Internet
Jejak Sahabat
Puisi-puisi Valentine
Nge-Blok itu Asik
Puisi Anak-anak
Puisi-puisi Valentine 2
Kaya Belum Berarti Sukses
Puisi Media Massa 1
Puisi Media Massa 2
SMA Neg 4 Pematang Siantar
Tak Sekadar Hiburan
Perbedaan Sajak dan Puisi
Sajak Pertanyaan Kepada Tuhan
Cinta di Kos Romantis
Puisi SMS Tri Ayu A
Puisi Al-mauki Solihin
Menggugah Pelestarian Lingkungan dari karya
Puisi Media Massa 3
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar 2
Puisi SMS Rosiana R
Puisi Paskah
Puisi Media Massa 4
Puisi Media Massa 5
Menusuk Sukma
Profil Pengeja Kata
Puisi Aan Rahmaani Mangeshkar
Puisi Media Massa 6
Puisi Media Massa 7
negeriads.com solusi berpromosi
Puisi untuk Cinta
Link Exange Blogger Sejati
komentar Permintaan Over Link
Kata Terindah dari Ayoe
PPCklik.com Media Pertemuan Advertiser dan Publisher
Pesta nge-click para Blogger
Puisi Untuk Sahabat Blogger
Submit Blog atau Web ke Ribuan Servis Ping
Alergi Susu Sapi
Aksi Sadar Alergi pada Bayi
PPC Berbayar Terbaru
Bisnis Online: Harapan dan Cita-Cita Kemandirian Bangsa
Bulan Oktober Bulan Ide

Friday, October 28, 2011

Link Sahabat

Halaman Link sahabat Sigodang Pos. untuk permintaan Tukar link , sobat bisa menuliskan komentar permintaan tukar link di halaman ini.Mohon maaf komentar untuk halaman ini sudah di tutup, hal ini bertujuan untuk mempercepat loading halaman link sahabat ini, selain itu, Halaman Link Sahabat ini juga sudah di link dari 8 situs/blog yang tergabung ke dalam Group Sigodang Pos. Terimakasih.

>A
Adhit Slot
AdHiE ToKeKx
Adira Asuransi Kendaraan Terbaik Indonesia
Alex Marz Online
Ambaeexe
Ari Febriant's Blog
Artikel Motivasi
Afushare
alia fauzi
Aneka Resep Kue Nusantara
Arti Kehidupan
Ayriy Zone
Azis Fotografi
Azqia Info

>B
Baca Komik Manga Terbaru
Bareha's Blog™
Bety Hikari
Berbagi Ilmu
Berbagi Informasi
Blog Atap
Blog Pendidikan
Blog e Mr.w
Blogger Palembang
Blog Lirik Lagu
Blog Perawat
Blogadexme
Budaya
Budaya Kutai
B-Bayu
Blog Cbox
BLOGCUNAYZ
Blogtronyok
Bonthain
BRI Jakarta Veteran

>C
CahNdeso
Center Artikel
Computer Indonesia
Cari cari Info
Cacugunawi Nafie
Computer Software

>D
Dian18
Dyanseller - SEO Blogger
Diary Online
Dream Of Love
Drooid Today | Your Android Stuffs
Delta Net KABUNAN
Download Sofware Terbaru Gratis
Deras84

>E
Eddypasaribu
earth-inside
Economic Article
Edy Sant
Elsecamp
Entertaiment and Gaming
ELANG-ANTARNUSA

>F
Fokus Kita
Fahrul FauZi dotcom
Filearchive4u
fikri4share
Full filearchive4u
Full Software Mediafire
Feeds Sigodang Pos
faisal's blog

>G
Gadget and Gizmo
Griya Klik

>H
HealthTip4Life
Honda Semarang Center
Hariyanto Wijoyo
Hayardin Blog
HiTAM PUTiH
Hotel Murah di Bandung
How To Be Vegetarian

>I
Ilmu Kita-Kita
Ideini.Com
Infonetmu
Info Seputar Wanita

>J
JANSKULO
Jesus Help Me
Jpop&Kpop Music

>K
Klopototolia TJ
Komputer dan Internet
Kodokoala
Kreasi Fathan

>L
Ladida Cafe
Laughing for Fun
LOVERS OF SCIENCE

>M
MAMUT PORTAL
Mezzi Oktavia
Menulis Karya Sastra
Me & d'BC Network

>N
NgePas

>O
One Piece Over
Obat Sakit 2011

>P
Penyuluhan Perikanan
Phone OS-ku
sigodangpos's Profile on Ping.sg 
Parsigodang Pos
Penulis Mania

>R
Rendy'Site
Raya Post
Rezarenaldi
Ruang Cinta Seorang Puguh
Ruang Inspirasi
Ruang Dunia
Ruang Karya

>S
Superlivy's Notebook
Syahida Computer
Saeful13 Blog
Sehat Kita Semua
Sentra Blogger
Seri Bahasa
Science|Lifestyle
Sebuah Keisengan Sunyi
Sigodang Pos
simple Blog 4
Siotik Pos
Sharing About SEO
SULHAM SYAHID
Ssky Blog
Surowungu
Spektrum's Blog

>T
TANGGULANGIN cOMUNITY
Tips N Trik Blogging
Trik & Tips Komputer Superboy
Tutorial Blog Terbaru
Tana Toraja
Tautan Informasi
Tech-comps.in

>U
Unik dan Aneh

Puisi SMS Cinta dan Kehidupan
Download E-book Pdf Gratis I
Cintai Aku Saja
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk
Motivasi Sukses Ala Sastra
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar
Puisi SMS AlfenPuisi SMS Alfen
Puisi SMS Icha Marpaung
Puisi SMS Nuy
Kedalaman Sajak
Tips Menjadi Sukses
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk 2
Membangun Penghasilan di Internet
Jejak Sahabat
Puisi-puisi Valentine
Nge-Blok itu Asik
Puisi Anak-anak
Puisi-puisi Valentine 2
Kaya Belum Berarti Sukses
Puisi Media Massa 1
Puisi Media Massa 2
SMA Neg 4 Pematang Siantar
Tak Sekadar Hiburan
Perbedaan Sajak dan Puisi
Sajak Pertanyaan Kepada Tuhan
Cinta di Kos Romantis
Puisi SMS Tri Ayu A
Puisi Al-mauki Solihin
Menggugah Pelestarian Lingkungan dari karya
Puisi Media Massa 3
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar 2
Puisi SMS Rosiana R
Puisi Paskah
Puisi Media Massa 4
Puisi Media Massa 5
Menusuk Sukma
Profil Pengeja Kata
Puisi Aan Rahmaani Mangeshkar
Puisi Media Massa 6
Puisi Media Massa 7
negeriads.com solusi berpromosi
Puisi untuk Cinta
Link Exange Blogger Sejati
komentar Permintaan Over Link
Kata Terindah dari Ayoe
PPCklik.com Media Pertemuan Advertiser dan Publisher
Pesta nge-click para Blogger
Puisi Untuk Sahabat Blogger
Submit Blog atau Web ke Ribuan Servis Ping
Alergi Susu Sapi
Aksi Sadar Alergi pada Bayi
PPC Berbayar Terbaru
Bisnis Online: Harapan dan Cita-Cita Kemandirian Bangsa
Bulan Oktober Bulan Ide

Tuesday, October 18, 2011

Pesan Review Murah

Anda bisa meminta review tentang situs atau bisnis anda. Review tersebut akan diposting selamanya di Sigodang Pos dan memasang link ke situs atau bisnis anda sebanyak 2 link pada artikel tersebut.

Harga
  • 200-250 kata Rp.20.000
  • 251-300 kata Rp.25.000
  • 301-350 kata Rp.30.000
  • 351-400 kata Rp.35.000
Kelebihan
  1. Penulis: Ferdinaen Saragih (Penulis dan Blogger)
  2. Judul Review boleh ditentukan
  3. Anchor teks pada link dapat ditentukan sendiri.
  4. Page Rank 3
  5. Alexa dibawah 140.000
  6. 2500-3000 Page View/hari
Pembayaran
  1. BNI: 0133311732. A.n Ferdinan De Jecson S
Pemesanan
  • SMS (085220010060) atau YM: sigodangpos
Atau

Donasi

Anda merasakan kebermanfaatan blog Sigodang Pos? Anda bisa memberikan donasi yang bertujuan untuk kemajuan blog ini kedepannya. baik dari Sastra, Puisi, Cerpen, Menulis, Bisnis, Tips Blog, Simalungun, Produk, Motivasi, Kesehatan, Lomba, Bahasa, Si Aku, Ebook, dan tulisan lainnya.

Bank
BNI Cab. UPI Bandung
0133311732
a/n Ferdinan De Jecson Saragih

Paypal: sigodangpos@gmail.com

Pulsa: 085220010060

Terimakasih atas dukungan anda.

Puisi SMS Cinta dan Kehidupan
Download E-book Pdf Gratis I
Cintai Aku Saja
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk
Motivasi Sukses Ala Sastra
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar
Puisi SMS AlfenPuisi SMS Alfen
Puisi SMS Icha Marpaung
Puisi SMS Nuy
Kedalaman Sajak
Tips Menjadi Sukses
Puisi-Puisi Hendy Sidauruk 2
Membangun Penghasilan di Internet
Jejak Sahabat
Puisi-puisi Valentine
Nge-Blok itu Asik
Puisi Anak-anak
Puisi-puisi Valentine 2
Kaya Belum Berarti Sukses
Puisi Media Massa 1
Puisi Media Massa 2
SMA Neg 4 Pematang Siantar
Tak Sekadar Hiburan
Perbedaan Sajak dan Puisi
Sajak Pertanyaan Kepada Tuhan
Cinta di Kos Romantis
Puisi SMS Tri Ayu A
Puisi Al-mauki Solihin
Menggugah Pelestarian Lingkungan dari karya
Puisi Media Massa 3
Puisi SMS Nuanzicha Ayu Tamsar 2
Puisi SMS Rosiana R
Puisi Paskah
Puisi Media Massa 4
Puisi Media Massa 5
Menusuk Sukma
Profil Pengeja Kata
Puisi Aan Rahmaani Mangeshkar
Puisi Media Massa 6
Puisi Media Massa 7
negeriads.com solusi berpromosi
Puisi untuk Cinta
Link Exange Blogger Sejati
komentar Permintaan Over Link
Kata Terindah dari Ayoe
PPCklik.com Media Pertemuan Advertiser dan Publisher
Pesta nge-click para Blogger
Puisi Untuk Sahabat Blogger
Submit Blog atau Web ke Ribuan Servis Ping
Alergi Susu Sapi
Aksi Sadar Alergi pada Bayi
PPC Berbayar Terbaru
Bisnis Online: Harapan dan Cita-Cita Kemandirian Bangsa
Bulan Oktober Bulan Ide

Friday, October 14, 2011

Cerita Pendek Gadis Subuh bag 2

Sambungan... Cerita Pendek Gadis Subuh bag 1.
”Kau adalah pangeran dalam perjalanan mimpiku, kau selalu ada untuk menemaniku, melawan terjangan maut, dan menghiburku dikala aku sedih, jika kau berkenan, ucapkanlah cinta itu untukku dengan segenap hatimu.” Itulah kata-kata yang keluar dari bibir manis itu.

Kugerakkan bibirku, aku ingin menjawab semua itu dengan cinta dan segenap hatiku, tapi masih saja terasa berat, suatu kata untuk menjawab, tak dapat kuucapkan. Dengan dayaku. kugerakkan bibirku, aku tak mau dia sedih, menunggu jawaban yang terlalu lama, tanpa harus berpikir panjang , aku sudah dapat menerima cintanya. Tapi sekarang masalahnya pada bibirku, tak dapat kugerakkan. aku kesal pada bibirku, ingin kupukul dengan kedua tanganku, tapi sama saja, kedua tanganku juga tak berfungsi.

“Bro bangun, kuliah sudah selesai” sepertinya aku kenal suara itu, yaitu suara teman sekelasku, Hendrik. Aku terbangun dari mimpiku, dan sadar bahwa semua yang aku alami tadi hanya sebuah mimpi, sekarang aku semakin gelisah tentang gadis itu.
Sepulang dari kampus aku langsung menuju kosan, menolak ajakan teman untuk menonton pertunjukan drama, yang diangkat dari kisah percintaan Romeo dan Juliet, di gedung kesenian rumentang siang. Setiba didepan kosan, tak lupa kupandang lagi taman itu, kuamati sekeliling dan mengingat-ingat kejadian yang ada di mimpiku. Keadaan taman itu membuat mimpiku seperti menjadi nyata. Hal itu membuatku semakin penasaran kepada wujut gadis yang selalu kulihat di pagi hari sebelum subuh. Aku semakin yakin gadis itu akan menjawab semua kesendirianku selama ini.

Menjelang tidur, kuletakan jam bekker tepat didekat telingaku, untuk membangunkanku tepat pukul setengah empat, sengaja kupercepat agar aku dapat melihat kemunculan gadis itu di taman. Benar, aku terbangun tepat pukul setengah empat. Dengan sigap kujauhkan selimut yang menutupi tubuhku, melawan kekuatan alam oleh rasa dingin.

Kusibak tirai jendela kamarku, memandang keluar, berharap gadis itu belum muncul di taman, dugaanku benar, dia belum ada di taman. Kuperhatikan sekeliling taman itu, melihat sesuatu yang mungkin terjadi atau keanehan lain tentang kedatangan gadis itu. Mataku berpaling memendang kearah rumah, kini ruang tengah itu sedikit bersinar oleh cahaya kuning, yang terpancar dari sebuah lampu pizar dari sudut ruangan. Mataku semakin was-was, dan terus mengamati ruangan itu.

Mataku terperanjat ketika pintu rumah itu terbuka, dan gadis itu muncul seketika itu, dengan menggenggam sapu lidi di tangan kirinya, dan beranjak menuju taman. Dengan sigap kubuka perlahan pintu kamarku, niatku untuk menemuinya sangat menggelegar, akan kubuka segala teka-teki yang selama ini menghantuiku.

Dengan sedikit takut aku melangkah menemui gadis itu. Dia tersentak kaget melihat kedatanganku. Kuulurkan tanganku dengan perlahan, kusebutkan namaku.

“Nam...a saya haris!” Dengan lembut digapainya tanganku.

“Namaku bunga!”

“Nama yang begitu indah kataku!” Lama kugenggam tangannya, kini aku yakin bahwa dia adalah seorang manusia biasa, bukan seperti yang kubayangkan selama ini. karna tangannya terasa hangat, seperti manusia wajarnya.

“Apakah kamu seorang pekerja di rumah ini?”

“Ya, aku seorang pembantu!”

“Maaf kalau boleh tanya, kenapa aku hanya melihatmu waktu subuh saja?”

Itulah hidup ris, kedua orang tuaku sudah lama meninggal, ketika subuh aku bekerja disini menyapu taman dan membersihkan rumah, jam enam pagi aku harus pergi kuliah, karna kampusku sangat jauh dari sini. Sepulang kuliah aku harus kerja di sualayan, dan pulang kesini juga tengah malam.

Suatu perjuangan yang sangat dahsyat pujiku, baru kali ini aku mendengar perjuangan seorang perempuan yang sangat luar biasa.

“Apa kamu tak pernah merasa kelelahan?”

“Aku juga manusia ris, bukan hanya merasa kelelahan tapi kadang aku kepikiran untuk berhenti kuliah.”

“Udah dulu ya ris, aku masih banyak kerjaan, bentar lagi mau berangkat kuliah.”

“Ya udah, aku pergi dulu, Thanks ya atas waktunya.”

“Eh, Ris kamu maukan jadi teman aku?” sepertinya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling gampang, yang pernah ditujukan padaku.

‘Ya flower!” ucapku .

“Siapa sih yang tidak mau berteman dengan gadis sehebat kamu, cantik lagi. aku sangat bangga punya teman sepertimu.“ Ferdinaen Saragih (2008: Bandung).

Cerpen Lainnya

Cerita Pendek Gadis Subuh bag 1

Gadis Subuh
Kutarik selimut yang menjauh dari tubuhku, kedinginan menyergap disaat terbangun. Aku hanya bisa menggigil dan pasrah, karena aku tak kuasa melawan kekuatan alam yang sedang mempermainkanku pagi itu.

“sial“ ucapku dalam hati, rasanya aku ingin buang air kecil, tapi kucoba untuk melupakan itu, melanjutkan tidur yang masih terganggu. tapi air seni itu semakin terdorong, sepertinya dia ingin keluar saat itu juga. Dengan berat, kujauhkan selimut yang menutupi sekujur tubuhku, mencoba untuk bangkit berdiri, walau rasa dingin menggodaku untuk tetap bertahan.

aku tersentak kaget ketika pintu kamarku kubuka, bayangan seorang gadis meliuk-liuk menyapu taman dengan pakaian putih, seketika dia berbalik kearahku. Suasana pagi yang belum tersibak oleh siang, membuat wajahnya tak terlihat begitu jelas seperti hantu, itulah pikiranku saat itu. rasa dingin ditubuhku terasa hilang oleh rasa takut yang datang menghampiriku, aku langsung berlari ke kamar mandi, sekejap kembali menuju kamar kosanku.

Di kamar aku masih terbayang wajah dan peri wanita itu. Setahuku, rumah besar yang bertaman luas itu tidak pernah barpenghuni, karena pemiliknya selalu saja keluar kota untuk menjalankan bisnisnya, mungkin rumah itu dibeli hanya sebagai rumah dihari tua saja.

Disetiap detik-detik yang kulewati, wajah gadis subuh itu tak pernah beralih dari pikiranku, bayangannya sudah memenuhi syaraf-syarafku. kini bayangannya membuat hidupku terpuruk oleh rasa takut, dan rasa penasaranku mengklaim niatku untuk melihatnya lagi.

Pagi berikutnya, aku bangun lebih awal, Rasa penasaran menghapus semua rasa takutku. Kusibak pelan-pelan tirai jendela kamarku. Kulihat kearah taman itu. Lagi-lagi aku melihat gadis itu, meliuk-liuk memainkan sapu lidi, membersihkan daun kering yang berserak oleh angin. Penglihatanku masih begitu remang, karna kaca jendela hitam pekat.

Kubuka pelan-pelan pintu kosan, kuusap mataku, kini sosok gadis itu semakin jelas dalam penglihatanku, lampu kuning yang menyinari taman itu membantukku untuk melihat gadis itu lebih jelas, pakaian putih yang melekat pertama melihatnya, sekarang masih melekat juga. rambut hitam terurai, menutupi punggungnya hingga pinggulnya, bentuk tubuh yang begitu indah, dia miliki. hatiku sempat tertarik untuk melihatnya berlama-lama, mengikuti gerakan pinggulnya yang bergoyang indah, disaat memainkan sapu lidi itu. Disaat aku melihat semakin kebawah, kaki yang panjang tertutup oleh celana yang terlalu panjang, menutup seluruh bagian kakinya sehingga terasa kelihatan melayang, bagaikan hantu yang sering kulihat dalam film-film horor Indonesia. Rasa takut mulai menghampiriku, sekejap pintu kamarku kututup rapat, kuraih selimut dan kubungkus seluruh tubuhku. aku masih saja memikirkan gadis itu, karena dalam benakku masih tersimpan sejuta pertanyaan tentang dia.

Mentari mulai memancarkan sinar merahnya, mataku belum juga dapat kupejamkan, untuk melanjutkan tidurku. Dengan berat kujauhkan lagi selimut yang melingkari tubuh dan mencoba untuk bangkit, karena hari ini adalah hari kuliah. Sebelum berangkat ke kampus kulihat lagi sekeliling rumah yang bertaman itu, tapi tak ada suatu pertanda bahwa rumah itu ada penghuninya.

Perjalanan ke kampus terasa berat, berjuta pertanyaan kubawa, apalagi rasa ngantuk mulai menghampiriku. Setiba di kampus kuusahakan duduk paling belakang, supaya mataku dapat beristirahat sejenak.

Aku terbangun dalam kegelapan, kulihat jam tanganku menunjukan pukul empat pagi, terbangun pada sebuah taman, sepi tak seorangpun manusia ada di dekatku, sepertinya aku hidup dalam kesendirian, tak ada suara angin, gonggongan anjing, semuanya sepi. Kuperhatikan taman itu, seperti mirip suatu taman yang ada didepan kosanku, dimana tempo hari aku melihat seorang gadis penyapu taman meliuk-liukan tubuhnya, mempermainkan sapu lidi dengan kelembutannya. Kuperhatikan lagi rumah yang ada didepannya, ya sama persis seperti rumah di depan ditaman itu, tapi semuanya hanya lenggang dalam kegelapan. Lampu-lampu semua padam, yang ada hanya sebuah lampu pijar ditaman, samar-samar oleh kehitaman malam.

Kegelapan dalam rumah berubah menjadi agak terang, oleh cahaya lampu kuning. samar-samar, sama seperti ditaman. kuning bercampur kegelapan, namun terang itu termakan gelap. pintu rumah terasa bergeser, sepertinya ada seorang yang ingin keluar menuju kegelapan dan kesunyian dunia. Kedua kakiku terasa bergetar, oleh wujut yang keluar dari dalam rumah itu, seorang wanita yang sering kulihat setiap pagi sebelum waktu salat subuh. Kini wajah yang anggun itu terlihat jelas, bersinar bagaikan Malaikat, menerangi taman itu dengan cahaya putih. Aku terpaku melihatnya, kagum oleh lekuk-lekuk tubuhnya, rambut lurusnya, dan semua yang ada padanya. Kini dia semakin mendekat menuju ke arahku, aku ingin berbicara kepadanya, memuji kecantikannya dan ingin berkenalan dengannya, tapi aku tak dapat melakukanya. kedua bibirku terasa kaku untuk mengungkapkanya, aku bagaikan patung, hanya mataku yang berfungsi untuk melihat, menyaksikan semua itu dalam suatu pagi yang gelap, yang diterangi oleh suatu bidadari nan-cantik.

Dia semakin mendekatiku hingga jarak diantara kami hanya selangkah, dalam kedekatan itu bibir indahnya mengeluarkan getaran-getaran suara, aku sadar telingaku sepertinya berpungsi saat itu, karna suara indah itu meresap kedalam otakku. Bersambung... Cerita Pendek Gadis Subuh bag 2.

Cerpen Lainnya

Tuesday, October 11, 2011

Cerpen Dewasa: Setelah Sekian Tahun

Setelah Sekian Tahun

Dunia selalu diisi oleh keindahan cinta, di trotoar, terminal, hotel, dimana-mana pasti ada cinta, jika di tempat itu masih kita temui kaum hawa dan adam, kedua-duanya bagaikan magnet positip dan negatif, selalu tarik-menarik, selamanya, hingga dunia diporak-porandakan oleh kiamat.

Jika seseorang mendapatkan cinta hanya dengan sekejap, hanya dengan suatu ungkapan, menurutku dialah orang yang paling beruntung, tanpa banyak berlari, mendaki sudah bertengger di puncak keindahan itu.

Sudah kudaki setinggi puncak evrest dalam hatinya, menaburi kata-kata pujangga disetiap sudut hatinya, untuk membuatnya bahagia, tapi tak satu titik cinta yang kutemukan. kata-kata penolakanpun tidak pernah bertengger dikedua telingaku, hanya menunggu.

Dengan dayaku, aku harus bisa melupakannya, menghapusnya dari stupa hatiku, walaupun harus kucabut semua panah-panah cinta itu dari dalam hati, Melewati semua kesunyian disetiap malam-malamku, hanya dengan bayang-bayangnya. Cinta ini benar-benar membuatku gila. Jika band D’Masif mengatakan cinta itu membunuhku, itu lebih gampang buatku, namun cinta itu belum membunuhku, tapi menyiksaku perlahan.

Sudah tiga tahun aku tidak mendengar kabar tentangnya, mungkin disebapkan jarak yang jauh, tapi aku tetap saja belum bisa melupakannya. sudah sering kucoba membuangnya jauh dari hatiku, mengikis cinta itu secara perlahan, tapi aku tidak pernah bisa melakukannya, karna urat-urat cinta itu tumbuh dan berkembang kembali.
Dikampus teman-teman selalu mengejekku bila aku mengungkit namanya, apakah aku memang salah terhadap kesetianan cintaku?

“Heh friend, jika kamu selalu saja mengharapkannya, tak lama lagi mungkin kamu akan stres, masih banyak cewek-cewek lain.”

Aku selalu mencoba menjelaskan kepada mereka, aku juga tidak ingin hidup seperti ini, tapi aku tidak sanggup melawan keinginan hatiku, karna hatiku selalu saja diisi olehnya. Tak tergantikan oleh wanita manapun.

“aku memang heran atas kesetiaanmu friend, tapi apakah kamu yakin dia mau menerimamu, jangankan menerima, mungkin dia sudah lupa tentang dirimu.”

Mendengar itu jelas saja hatiku lesu, aku tak mampu mendengarnya, apa lagi membayangkan jika itu memang benar-benar tejadi. Organ yang satu ini selalu saja berontak jika ada orang yang mencoba mengatakan seperti itu.

Haruskah aku munafik dengan hidupku? Mengenyampingkan rasa cintaku yang begitu besar. andaikan saja aku bisa aku pasti melakukan itu. berprilaku seperti teman-teman yang mampu membagi-bagi hatinya untuk beberapa wanita, bagiku hal seperti itu sama saja seperti anjing-anjing jalanan, yang selalu pindah-pindah pasangan.

Aku mungkin diciptakan sebagai lelaki yang setia. Mencintai seorang wanita hanya satu saja. Apakah aku harus menyesal diciptakan sebagai seorang lelaki yang setia, atau mungkin harus bangga?, sekarang aku belum dapat menjawabnya.

Melewati malam aku hanya bisa melamun dalam bayangan, bertengger pada sinar rembulan, sedangkan siang hidupku kosong, andaikan kucoba melamun, mentari pasti akan menertawaiku, dan mengejekku seperti teman-temanku.

Kucoba bertanya tentang keadaannya, kuhubungin teman-temannya, tapi apa yang kudapatkan, teman-temannya juga mengejekku seperti yang lainnya. aku semakin tidak mengerti tentang kesetiaanku, bayangkan aja kalau teman-teman wanitanya mengejekku demikian, apakah wanita tidak suka kesetian? Jika benar demikian, berarti aku sudah salah menjalani kesetiaan itu, dan aku akan menyesal diciptakan sebagai seorang lelaki yang setia.

Waktu terus saja berjalan, melewati derasnya hujan, teriknya mentari, hingga tak terhitung lagi pelangi memancarkan keindahannya, tetapi tetap saja aku tak pernah mengetahui tentangnya, semua itu menjadi sebuah teka-teki yang terbesar buatku.

Selesai wisuda, aku tidak langsung melamar pekerjaan, aku belum berkeinginan disibukkkan rutinitas itu. Aku masih ingin hidup bebas untuk beberapa bulan kedepan, melewati hari-hari tanpa ada ikatan yang harus dikerjakan

Hidup pengangguran membutku merasa jenuh dan bosan, aku semakin sering merenung kadang teringat pada gadis itu lagi, dia bernama Silvi, nama yang selalu menjadi ratu dalam hatiku. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak SMP , tapi aku tidak mampu mengungkapkan padanya. Namun ketika waktu SMA aku mengungkapkan perasaan itu untuknya, tetapi dia tidak membalas perasaan itu, dia hanya mengatakan kalau dia belum kepikiran untuk menjalin hubungan. Mungkin hal itulah yang membuatku terus menunggu dan selalu menunggu.

Rasa bosan yang menghampiriku, memakasaku untuk mengakhiri jabatanku sebagai pengangguran, ingin rasanya kuakhiri status sosial itu dengan cepat, tapi itu masih memerlukan waktu yang cukup lama, karna belum tentu langsung diterima.

Hari ini, aku merasa beruntung, sekali melamar pekerjaan aku langsung diterima di salah satu penerbit buku, aku semakin senang ketika aku dipekerjakan sebagai editor disana, karna itu adalah suatu pekerjaan yang sangat gampang dan menyenangkan buatku.

Disela-sela waktu senggang, aku selalu merasa dihantui bayangannya, cinta dibelahan dadaku selalu membuatku terasa tersesak, tidak dapat kubayangkan jika dia nantinya tidak memilihku dan meninggalkanku. Jika itu memang benar-benar terjadi, mungkin lebih baik kuakhiri hidup ini tanpa pernah dipersatukan dengan wanita manapun, karna hatiku, jiwa dan ragaku sudah dipenuhi oleh nama dan bayangnya.

telepon yang berdering menggetkanku dari lamunan itu, setelah kulihat ternyata ybu. aku penasaran mengapa ybu meneleponku tengah malam begini.

“Hallo mam!”

“Ini kamukan nak?”

“Ya mam, masak ybu lupa suaraku sih ?, lagian ini nomor yang biasa kupakai ”

“Maklumlah nak ybu sudah tua, pendengaran ybu mulai terganggu.”

“Ada apa mam telepon malam-malam begini?” tanyaku mendesak

“nggak, ybu hanya kangen sama kamu. Bagaimana tentang pekerjaan kamu, kamu betah nggak kerja disana?”

“Ya betahlah mam, namanya juga berkat, tidak mungkinlah saya menyianyiakan pemberian Tuhan.”

“Ya udah, mama yakin, kalau kamu betah kerja disana. Begini nak, ybu kan sudah tua, jadi apakah kamu belum memiliki rencana untuk menikah, karna ybu dan Bapak sangat berkeinginan menimang cucu dari kamu, sebelum kami berpulang menghadap yang maha kuasa. lagian apa kamu tidak malu dilangkahi oleh adikmu? Karna, ybu dengar adik kamu sudah punya teman wanita. kali ini, dia sepertinya serius dengan gadis itu.”

Pertanyaan ybu membuat kakiku bergetar, aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu, karna semuanya serba salah buatku. Jika aku menyatakan sudah merencanakan pernikahan, tapi dengan siapa? Namun apabila aku menyatakan yang sebenarnya, bahwa aku belum memikirkan tantang pernikahan, mungkin Ybu sangat sedih. Aku tidak mau membuat ybu sedih, karna aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu membahagiakannya, selamanya.

“Iya mam, aku sudah memikirkan hal itu, tapi belum sekarang, jika sudah waktunya aku akan kukabarin kepada Bapak dan Ybu.”

“Ya udah, ybu tunggu lo!”

“Ok mam!”

Malam yang semakin larut, tidak membuatku terasa ngantuk. Pikiranku masih berputar, hatiku semakin gelisah, tentang permintaan ybu. Andai saja gadis itu meneleponku malam ini, aku pasti memintanya untuk menikah denganku, walaupun dengan memohon kepadanya.

Telepon genggamku bergetar lagi, tapi nomornya tidak kukenal. Aku angkat telepon itu

“hai, selamat malam!” ucapnya dari seberang sana.

Tanpa basa-basi aku langsung tanya siapa gerangan yang menelponku malam-malam begini. Dia mengaku teman dari gadis yang selalu mendermaga di pusaran hatiku. Dengan rasa senang, kutanya apa maksudnya meneleponku malam-malam begini.

“aku sebenarnya ingin mengatakan kepadamu kalau....” dia tidak melanjutkan perkataannya.

“Kalau apa?” desakku lagi
“kalau gadis yang kau puja selama ini, tidak pernah memikirkanmu, sekarang dia sudah memiliki kekasih. Dan aku dengar mereka sudah tunangan.”

“Tunangan?” bentakku

Mendengar ucapan itu, aku bagaikan tidak bernyawa. hatiku diremukkan oleh kata-kata yang hanya satu kalimat itu. Ingin rasanya kuakhiri hidup ini, detik ini. dia berteriak-teriak memanggilku dari seberang sana, tapi aku tidak memperdulikannya. amarahku tidak kuasa kubendung, hingga caci-maki tidak sengaja kulontarkan untuk lelaki yang merenggut cintaku. Walaupun sebenarnya aku sendirilah yang tolol, yang hanya menanam cinta dalam relung-relung hati, bagaikan menanam bunga lalu membiarkanya tumbuh dihutan luas, sehingga lupa, dimana bunga itu tertancap. Kini bunga itu telah dipetik oleh orang lain, tapi hatiku selalu saja berusaha berharap besar untuknya. Hal itu yang membuatku sadar tentang ayat dalam Kidung Agung yang menyatakan,

“Cinta itu kuat seperti maut, karna air yang banyak tidak bisa membuatnya padam, bahkan sungai-sungaipun tidak bisa membuatnya hanyut, dia tidak bisa dibeli dengan harta sebanyak apapun, dan kalau ada orang yang mencoba melakukannya, orang itu pasti akan terhina.” aku telah mengalaminya detik ini

Cintaku bagaikan ombak yang menghempas kedaratan, yang tidak berbalas untuk menendangnya kembali kesamudera, lalu terjerat pada batu-batu besar, dan tak akan bisa kembali lagi. Semuanya sudah pupus, pupus seiring berjalannya waktu.

Hari-hariku terlewatkan begitu lama. Sepertinya bumi lesu berputar pada porosnya. Tapi itu hanya perasaanku saja, mungkin karna kesedihan, dan hatiku yang berantakan entak kemana.

Cintaku yang begitu besar, tidak membuatku menyerah untuk membayangkan silvi, menemaniku disisa hidupku kelak. Kesetian itu nampaknya masih kokoh saja dalam jiwaku, hingga aku berencana mengambil cuti akhir tahun. menemui silvi dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Aku berharap setelah aku bertemu dia, semua teka-teki itu terjawab tanpa ada yang tersisa.

Hari yang kunantikan telah tiba, tak lupa aku berpamitan pada rekan-rekan kerja, terutama kepada rekan yang telah bersedia menggantikan posisiku sementara sebagai editor.

“Selamat jalan teman, saya akan selalu mendoakanmu.” Ucapnya

“terimakasih” jawabku.

aku langsung pergi meninggalkan ruangan itu, rasanya aku tak sabar untuk cepat-cepat pulang. Tanpa berlama-lama dikosan aku langsung berangkat menuju bandara. Dalam pesawat aku mulai lagi berhayal, tidak dapat aku bayangkan jika Silvi benar-benar melupakanku, rasanya sia-sia saja, aku melakukan semua ini.

Kakiku mulai gemetar menuruni tangga pesawat. Mungkinkah itu suatu pertanda yang buruk, tanyaku dalam hati. Aku terus berjalan dan memberhentikan taksi, pergi menuju rumah orangtuaku.

Sudah lima hari aku berdiam diri di rumah, berpikir bagaimana aku menemui gadis itu. Besok adalah hari terakhir, karna cutiku hanya seminggu. Aku tidak mau menyianyiakan kesempatan itu, karna itu adalah tujuan utamaku datang ke kota ini.

Keesokan harinya aku berangkat, menuju rumahnya. Setiba disana aku terkaget, begitu banyak orang-orang dalam rumah itu, sepertinya ada acara. Kulihat papan bunga yang bertuliskan “selamat berbahagia.”

Sejenak jantungku berhenti berdenyut, gadis itu telah dipersunting dengan lelaki lain. Dengan lunglai kugerakkan badanku, kearah yang berbeda. Aku pulang dengan kesedihan dan keputusasaan, semunya telah usai Ferdinaen Saragih (2008: Bandung).

Cerpen Lainnya

Friday, September 30, 2011

Cerpen Wajah yang Menikam bag 2

Sambungan Cerpen Wajah yang Menikam bag 1

***
Kujalani hidup sebagai seorang kekasih Ayin, setiap detikku bersamanya. acap kali aku kagum menerawangi kecantikannya, bagaikan sekuntum mawar, yang belum sepenuhnya mekar. Semakin hari semakin harum, semakin hari semakin indah. lalu utuh menjadi seuntai mawar yang memesona untuk selalu kunikmati, menjadikanku sebagai lelaki sejati, tanpa pernah melirik mawar-mawar lain.

Setiap malam tanpa terlewat, kami selalu bersama memandangi bulan di musim purnama. Tak dapat kupahami jika sesingkat waktu, aku telah mencintainya seutuh hatiku, hingga tak pernah terpikirkan olehku untuk pernah jauh darinya, bahkan untuk lebih dari itu.

Tidak dapat kunamakan lagi sebesar apa cintaku, karena hatiku telah tumpah-ruah untuknya. Begitu juga dengannya, dan aku sangat yakin itu, di saat pertama kali dia mempertanyakan kesukaanku padanya.

Sejak tiga hari yang lalu telah kuteguhkan, bahwa dialah kelak yang akan menemani akhir hidupku. Minggu depan kami akan dipersatukan menjadi pasangan suami istri.

Kedua orang tuaku sudah mempersiapakan segala sesuatu untuk meminangnya, malam ini. Aku juga telah siap untuk itu, karena ini hanya sebagai simbol adat saja yang harus dijalankan sebelum diadakannya acara pernikahan. lamaran ini tidak mungkin ditolak oleh orangtua Ayin, karena jauh hari kedua orang tua kami telah menyetujui hubungan ini.

Acara peminanganpun berlangsung dengan cepat. telah disepakati minggu depan acara pernikahan akan dilangsungkan. mendengar kedua orangtua kami yang berbicara ngorol-ngidul. aku mengajak Ayin keluar. kami duduk di bawah sengatan bulan beralaskan akar pohon beringin yang menjulang dari tanah.

Awalnya Ayin duduk dekat denganku, tapi setelah sebatang rokok kukeluarkan dan kuhisap perlahan, dia mulai menjauh dariku.

“kenapa menjauh yin?”

“Aku gak kuat dengan asap rokok!”

“bentar lagi dimatiin! Kamu dekat sini supaya tidak kedinginan.” rayuku.

Dengan terpaksa, dia akhirnya mau duduk disampingku, kuletakan tanganku dipundaknya, tiba-tiba aku merasakan tanganku basah oleh pundaknya. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya yang mungil. wajahnya berubah menjadi lebam setelah asap rokok yang kuhisap menyelusuri pipinya.

Tidak kulihat lagi kecantikan dalam dirinya, dia kembali menjadi Ayin yang dulu kukenal, sebelum malam pertemuanku dengannya, di malam jumat kliwon, ketika cintanya kugenggam dalam hatiku.

“wajah kamu kenapa yin” ucapku menyiasati.

Wajahnya dia tutup dengan kedua tangannya, dan berpaling dari hadapanku.

“Kamu kenapa yin?”

Wajahnya dia balikkan lagi, mumbuat kami saling berhadapan, wajahnya tetap tidak berubah lagi, dia sudah kembali menjadi Ayin yang dulu.

“Selama ini telah membohongimu dengan kecantikan yang palsu. Sebelum pertemuan kita malam itu, aku telah menaruh susuk di wajahku. Semuanya memang telah kuatur, karena aku tau abang selalu pulang malam hari dari tempat kerja. Tapi semuanya kulakukan karena aku sangat menginginkanmu.

“Jadi?”

Tak dapat lagi kulanjutkan kata hingga membentuk sebuah kalimat. aku langsung bergegas meninggalkannya. Aku tidak peduli lagi terhadap teriakannya, memanggil namaku, hingga kedua orang tua kami berhambur keluar.

“Aku tidak mau menikah dengannya?” Itulah kata yang kuucapkan ketika orangtuaku telah tiba di rumah.

“secepatnya bapak dan ybu membatalkan pernikahan itu.” Ucapku lagi.

“Aku tidak mencintainya, aku tidak mencintainya. Kalimat itu kuucapkan berulang-ulang hingga suaraku semakin hilang.

“Kenapa kamu berubah nak? Dulu kamu bersikeras supaya secepatnya kamu menikah dengan Ayin, kenapa sekarang kamu tidak ingin menikah dengannya?”

“Aku tidak mencintainya bu!” ucapku lagi

“Tapi tidak segampang itu nak, kamu harus menikah dengannya. Semua penduduk desa ini sudah tau, kalau minggu depan kau akan menikah dengan Ayin. bapak dan ybu telah meminangnya, menurut adat itu pantang membatalkan pernikahan, kalau sudah di pinang dengan adat. Apa kamu mau di cap tidak punya adat oleh penduduk kampung ini?”

“Persetan dengan adat!” aku langsung manuju kamar.

Aku masih memikirkan ucapan ybu, adat memang sulit untuk di langgar, apalagi penduduk di desa ini sangat memegang teguh tradisi-tradisi yang kadang tidak bisa diterima oleh akal pikiranku. semuanya sangat berat, memilih. menikahi Ayin atau membatalkan pernikahan itu.

Malam semakin larut, otakku lama berkerut, tapi belum juga dapat kuputuskan antara pilihan itu. Apakah aku bisa mencintai Ayin, apakah kami bisa bahagia kelak? Pertanyaan itu semakin menambah penatnya pikiranku.

Esok harinya Ybu terus menasehatiku, di ujung ucapannya selalu saja tentang adat, adat dan adat. Pikiranku semakin penat dibuatnya, hatiku juga sedikit risau tentang itu.

“Mau di tarok dimana muka Ayah dan Ybu, kalau kamu tak jadi menikah dengan Ayin? lebih baik ayah dan ybu minggat saja dari desa ini, karena ybu malu pada orang kampung.”

Aku tak sanggup mendengar ucapan ybu yang terakhir, jika ayah dan ybu harus minggat dari desa ini karena ulahku. dengan berat aku menyetujui pernikahan itu. Pernikahanku dengan Ayin akhirnya berlangsung.

Jujur, aku tak lagi mencintainya, karena cintaku telah hilang setelah kuketahui asal-muasal kecantikannya yang hitam. Pertanyaanku masih sama “apakah kebahagian dapat kutemukan bersamanya?” Ferdinaen Saragih : Bandung).

Cerpen Lainnya

Cerpen Wajah yang Menikam bag 1

Cerpen Wajah yang Menikam
Dia menjelma mawar, embun lalu menjadi angin. membentangi hatiku dengan kekuatan keindahan taman Surga. Kecantikan dan keanggunan yang menari-nari setiap hari, menjadikanku sebagai lelaki sejati. Namun semua itu memudar, seperti warna baju yang sering kubeli di pasar sore. Saat kuketahui asal-usul kecantikannya.

Berawal dari malam jumat kliwon yang beku, bintik-bintik hujan merayapi wajahku, membentuk suatu kesatuan-kesatuan hingga menetes perlahan-lahan menerobos malam. kebekuan malam membuat bulu romaku berdiri tegak. Jarum jam telah menunjukan pukul sepuluh malam. tanpa berpikir panjang, kupercepat langkah menuju tempat tinggalku.

Sebenarnya jarak antara rumah dan tempatku bekerja lumayan jauh, tapi aku selalu saja merasa keasikkan melewati hutan dan gundukkan persawahan yang selalu kunikmati setiap harinya, hanya saja bulan ini musim basah yang berkepanjangan, hingga aku tak terlalu perduli tentang itu semua.

Dari kejauhan, diantara lingkupan malam yang pekat. seorang wanita berlari kearahku, dia menghampiriku dan memberikan payung untukku. dia sama sekali tidak menolehku. wanita itu hanya tertunduk kearah permukaan tanah yang lembap.

Kuperhatikan dia lebih jelas lagi. aku kaget. ternyata dia adalah Ayien, seorang wanita seumuranku. Aku sangat kenal dengannya.

“Ayien” ucapku. tetapi dia terus saja tertunduk. Tubuh mungilnya dia goyang-goyang perlahan. Hal itu membuatku geli untuk melihatnya berlama-lama. Tanpa berpikir panjang, kuangkat wajahnya dengan kedua tanganku yang basah, kami pun saling berpandangan.

“Ayin” ucapku kaget. Jantungku mulai berdesir di saat rupa yang kulihat bagai bidadari yang turun dari khayangan, seperti dalam dongeng ibuku. Aku bertahan lama dalam pandangan itu. wajahnya nikmat menyerupai nasi putih berlaukkan gulai, di musim kemarau.

Gerimis menjelma hujan, namun aku masih saja terpaku. Menyaksikan tubuhnya menggigil kedinginan, dengan pandangan yang lembut memikau. kuraih payung dari genggamannya, berjalan dalam kubangan.
Dibawah pohon besar, dia menarik kedua tanganku. Dia tidak mengucapkan sepatah kata apapun, lalu dia duduk di atas pohon yang tumbang oleh angin satu minggu yang lalu.

Wajahnya berubah awan sore, dan kedua tangannya dia lipat rapat di ke dua dadanya. dapat kutebak, panas tubuhnya telah hilang keseimbangan.
Kudekati wujutnya. dia tak merasa risih, saat tubuhku kuletakkan berdampingan dengannya. tak tega melihatnya kedinginan, dengan sedikit canggung kurangkul tubuh mungilnya, tapi dia tidak merespon mengenai apa yang kulakukan dengannya.

Hujan sepertinya mulai mereda, rintik hujan sudah mulai jarang menerpa rambutku. Kucoba bangkit berdiri dan melepaskan tanganku dari pundaknya, tapi dengan sigap diraihnya kembali.

“Tunggu, apakah kau menyukaiku?” ucapnya perlahan, aku melihat suatu ketulusan yang memancar dari raut wajahnya. aku kehilangan nyawa untuk menjawabnya.

Ketika dulu aku tak pernah melihatnya sesejuk ini. Tidak dapat kubohongi bahwa malam ini aku benar-benar menyukainya.

“Mengapa kau bertanya demikian, Apakah menurutmu aku menyukaimu?” tanyaku. Wajah terlihat memerah oleh pertanyaan, yang aku sendiri pun tidak memahami, mengapa pertanyaan itu kupertanyakan padanya.

Jalanan kembali lengang, pohon malampun tak banyak berisik. Dengan sigap diraihnya payung yang ada di genggamanku, kemudian berlari menuju perkampungan, di bawah gelap malam dan rintik-rintik hujan yang sudah mulai jarang.

“Ayin, Ayin, Ayin, aku mencintaimu.” Ucapku, hingga menggema entah berapakali membentur alam. Dia berhenti, ketika kata terakhir kuucapakan, sepertinya dia menyukai sederet kata itu. Tapi dia berlari lagi.

“Aku juga mencintaimu” ucapnya dari kejauhan. Suara itu lembut mendarat di telingaku, lalu hilang di telan angin malam yang beku. Bersambung... Cerpen Wajah yang Menikam bag 2.

Cerpen Lainnya

Wednesday, September 28, 2011

Cerpen Pramoedya Ananta Toer

Cerpen Pramoedya Ananta Toer "Djakarta"
Almanak Seni 1957

Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta.

Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.

Ah, kawan, biarlah aku tjeritakan kau tentang Djakarta kita.

Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinja aku indjak tanah ibukota ini, stasiun Gambir dikepung oleh del¬man. Kini delman ini telah hilang dari pemandangan kota —hanja tudjubelas tahun kemudian! Betjak jang menggantikannja. Kuda-kuda diungsikan ke pinggiran kota. Dan kemudian: manusia-manusia mendjadi kuda dan sopirnja sekali: begini tidak ada ongkos pem¬beli rumput! Inilah Djakarta. Demi uang manusia se¬dia djadi kuda. Tentu sadja kotamu punja betjak djuga tetapi sudah djadi adat daerah meniru kebobrokan ibu¬kota.

Bukan salah manusia ini, kawan. Seperti engkau djuga, orang-orang ini mengumpulkan tekat segumpil demi segumpil¬ perawan-perawan sawah, ladang dan pegunungan, buruh-buruh tani, petani-petani sendiri jang bidang tanahnja telah didih di dalam perasaannja, warga-warga dusun jang dibuat porak poranda oleh gerombolan, peladjar-peladjar jang hendak meneruskan peladjaran, djuga engkau sendiri —dan dengan penuh kepertjajaan akan keindahan nasib baik di ibukota.

Kemudian bila mereka sampai di Djakarta kita ini, perawan-perawan pedalaman jang datang kemari sekedar tjari makan, dia dapat makan, lupa tjari makan, dia kepingin kesenangan, dan tiap malam berderet di¬ depan gedung tempat kerdjanja masing-masing. Pria tidak semudah itu mendapat pekerdjaan, dan achirnja mendjadi kuda. Beberapa bulan kemudian paha para pria ini mendjadi begitu penuh sesak dengan otot jang ter¬lampau banjak dipaksa kerdja. Tiap minggu mereka menelan telur ajam mentah. Dan djalan raja memberinja kemerdekaan penuh. Bila datang bahaja ia lepas betja berdjalan sendirian, dan ia melompat ke kaki lima. Djuga tanggung djawab delman hilang di tangan kuda-kuda ini. Beberapa tahun kemudian ia ‘ngedjengkang’ di balenja karena djantungnja mendjadi besar, desakan darahnja meninggi: ia invalid —puluhan! ratusan ribu! kembali ke kampung sebagai sampah. Bila ada kekajaan, adalah kekajaan membual tentang kepele¬siran. Tetapi untuk selama-lamanja ia telah mati, su¬dah lama mati. Djumlah kurban ini banjak daripada kurban revolusi bakalnja.

Djadi engkaupun ingin djadi warga Djakarta!

Djadi engkaupun ingin djadi sebagian kegalauan ini.

Dari rumah masing-masing orang bertekat mentjari uang di Djakarta. Djuga orang-orang daerah jang kaja mengandung maksud: ke Djakarta —hamburkan uang¬nja. Dan djuga badjingan-badjingan daerah: ke Dja¬karta —menangguk duit. Demi duit ini pula Djakarta bangun. Sebenarnja sedjak masuknja kompeni ke Dja¬karta, Djakarta hingga kini belum djuga merupakan kota, hanja kelompokan besar dusun. Hingga sekarang. Tidak ada tumbuh kebudajaan kota jang spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimport dari luar negeri: dansa, bioskop, pelesiran, minuman keras dan agama, berbagai matjam agama.

Aku lupa, bahwa kau datang hendak kemari untuk beladjar. Tetapi barangkali patut pula kau djadikan ke¬nangan, pusat beladjar daerah kita adalah Djakarta. Tetapi sungguh aku sesalkan, bahwa Djakarta kita bu¬kanlah pusat beladjar jang mampu menjebabkan para mahasiswa ini mendjadi perspektif kesardjanaan Indonesia di kemudian hari. Sisa-sisa intelektualisme karena gebukan balatentara Dai Nippon kini telah bangkit kembali dengan hebatnja. Titel akademi jang diperoleh tiap tahun beku dikantor-kantor, dan daerah¬mu tetap gersang menginginkan bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung-gantung djauh di ang¬kasa biru. Semua orang asing, dengan warna politiknja masing-masing, jang memberi kauremah-remah dari¬pada kekajaan kita terbaik jang diisapnja.

Aku tahu, engkau orang daerah, orang pedalaman memdewakan pemimpin-pemimpinmu, tetapi aku lebih dekat pada kenjataan ini. Aku tahu engkau berteriak¬-teriak tentang perekonomian nasional, tetapi basis ke¬hidupan jang didasarkan atas perdagangan eksport, bukan sadja typis negara agraria, djuga negara kolonial. Sepandjang sedjarah negara-negara petani mendjadi negeri djadjahan, dan tetap mendjadi negeri djadjahan.

Dan bukankah petani-petani daerahmu masih tetap hamba-hamba di djaman Madjapahit, Sriwidjaja atau Mataram? Siang kepunjaan radja, malam kepunjaan durdjana! Dan radja di djaman merdeka kita ini ada¬lah naik-turunnja harga hasil pertaniannja sendiri. Se¬dang durdjananja tetap djuga durdjana Madjapahit, Sriwidjaja dan Mataram jang dahulu: perampok, pen¬tjuri, gerombolan, pembunuh, pembegal.

Djadi beginilah, kawan. Djakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Djakarta. Tapi Djakarta sendiri hanja kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan jang masak tidak punja. Anak-anak men¬djadi terlampau tjepat masak, karena baji-baji, kanak¬-kanak dan orangtuanja digiring ke dalam ruangan¬-ruangan jang teramat sempit sehingga tiap waktu me¬reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada jang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men¬djadi hilang, dan segi-segi jang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini mendjadi tum¬pul. Agama telah mendjadi gaja kehidupan, bukan perbentengan rohani jang terachir. Aku tjeritai kau, kemarin anakku jang paling amat besar enam umurnja, bertjerita: Orang-orang ini dibuat Tuhan. Tapi apakah randjang ini dibuat olehNja djuga? Ia pandangi aku. Waktu kutanjakan kepadanja bagajmana warna Tuhan: hitam ataukah merah? Ia mendjawab Putih! Ia pilih warna jang tidak mengandung interpretasi, tidak di¬warnai oleh pretensi. Sebaliknja kehidupan Djakarta ini—dan barangkali patut benar ini kau ketahui: penuh-sesak dengan interpretasi dan pretensi ini. Di¬ segala lapangan! Lebih mendjengkelkan daripada itu: tiap-tiap orang mau mendesakkan kepunjaannja masing-¬masing kepada orang lain, kepada lingkungannja. Sungguh-sungguh tiada tertanggungkan. Barangkali kau pernah peladjari sedjarah kemerdekaan berpikir. Bila demikian halnja kau akan dikutuki tjelaka.

Tetapi djangan kaukira, bahwa kegalauan ini ber¬arti mutlak. Barangkali adanja kegalauan ini hanjalah suatu salahharap daripadaku sebagai perseorangan. Aku seorang pengarang, dan pengarang di masa kita ini, terutama di ibukota kita, adalah sematjam kerbau jang salah mendarat di tanah tandus. Setidak-tidaknja kega¬lauan ini memberi rahmat djuga bagi golongan-golongan terten¬tu, terutama bagi para pedagang nasional, jakni jang berdjualbelikan kenasionalan tanah-airnja dan dirinja. Mungkin engkau tidak setudju. Tetapi barangkali lebih baik demikian. Sungguh lebih menjenangkan bagimu bila masih punja pegangan pada kepertjajaan akan kebaikan segala jang dimiliki oleh tanah-airmu dalam segala segi dan variasinja. Kami golongan pengarang, biasanja tiada lain daripada tenaga penentang, golongan opposisi jang tidak resmi. Resmi: pengarang. Tidak resmi: opposisi periuk terbaik! Dengan sendi¬dirinja sadja begitu, karena kami bitjara dengan selu¬ruh ada kami, kami hanja punja satu moral. Itu pula sebabnja, bila kami tewas, tewas setjara keseluruhan. Bukannja tewas di moral jang pertama, tetapi mendjadi tambun di moral jang keempat! mendjadi melengkung di moral jang ketiga!

Aku kira terlampau djauh lantaranku ini. Padamu aku mau bitjara tentang Djakarta kita.

Sekali waktu di suatu peristiwa, Omar pernah bitjara dengan sombongnja: Bakar semua chazanah, karena segalanja telah termaktub di dalam Qur’an! Permun¬tjulan jang grandiues tapi tak punja kontour-kontour kenjataan ini adalah gambaran kedjiwaan Djakarta: rentjana-rentjana besar, galangan-galangan terbesar di Asia Tenggara, tugu terbesar di Asia, kemerosotan mo¬ral terbesar! segala terbesar. Tapi tak ada sekrup, tak mur, tak ada ada drat, tak ada nipple, tak ada naaf, tak ada inden dan ring pada permesinan semua ini.

Sekali waktu disuatu peritiwa, Pascal mentjatat di¬ dalam bukunja: Manusia hanja sebatang rumput, teta¬pi rumput jang berakal budi. Dan rumput ini adalah golongan jang mempunjai kesadaran tanpa kekuasaan, terindjak dan termakan. Jang lahir, kering dan mati dengan diam-diam. Namun mendjadi permulaan dari pada kehidupan, seperti jang disaksikan oleh Schweit¬zer, serta risalah Kan Ying Pien.

Berbagai matjam angkatan tjampur-baur mendjadi satu, seperti sambal jang menerbitkan satu rasa, tetapi dengan teropong masih djelas nampak perpisahan an-tara bagian satu dengan jang lain. Namun pentypean sematjam jang tegakkan oleh Remarque tidak memper¬lihatkan diri.

Barangkali engkau keberatan dengan kata-kataku itu. Tetapi memang demikian. Tjobalah ikuti tulisan-tulisan angkatan demi angkatan. Angkatan jang muda mentja¬tji jang tua, jang muda ditjatji oleh jang lebih muda. Tetapi, kata Ramadhan KH jang pernah aku dengar, angkatan muda ini bila diberi kesempatan, dia kehilangan segala proporsi dan lemih mendjadi badut lagi. Artinja badut di lingkungan badut. Tokoh-tokoh pemi¬kiran mengetengahkan Wulan Purnomosidhi dan Ada¬ tidaknja Tuhan, di dalam kekatjauan sosiologis, ekono¬mis dan politis, kultural dan intertual! Apakah kita mesti ikut pukul kaleng untuk membuat segala ini men¬djadi bertambah ramai? Sedang anak-anak murid ini telah demikian goiat dengan membanggakan pengeta¬huannja tentang para tjabul dan ‘rakjat ketjil’ plus sa¬duran Toto Sudarto Bahtiar Tjabul Terhormat karang¬an Sartre? Plus Margaretta Gouthier saduran Hamka dari Alexander Dumas Jr. Hamka? ja Hamka.

Achirnja, seperti kata A.S. Dharta, orang-orang da¬tang dan berkumpul ke Djakarta, mendjadi warga Dja¬karta, untuk mempertjepatkan keruntuhan kelompokan besar dusun ini. Tambah banjak jang datang tambah tjepat lagi.

Selagi aku belum djadi penduduk Djakarta, dambaanku mungkin seperti kau punja. Impian jang indah, bajangan pada pembangunan hari depan. Diri masih pe-nuh diperlengkapi kekuatan, kemampuan dan kepertja¬jaan diri. Barangkali bagimu segala itu lebih keras lagi. Karena di daerah bertiup angin: orang takkan djadi warganegara jang 100% sebelum melihat Djakarta de¬ngan mata kepala sendiri.

Barangkali engkau akan bertanja kepadaku, mengapa tak djuga menjingkirkan diri dari Djakarta! Ah, kau. Golongan kami adalah sematjam kerbau jang mendarat di tanah tandus. Golongan kami reaksioner di lapangan penghidupan. Sekalipun tandusnja penghidupan golong¬an kami, djustru Djakartalah jang bisa memberi, seka¬lipun hanja remah-remah para pedagang nasional, atau petani pasar minggu. Tambah lama nasi jang sepiring harus dibagi dengan empat-lima anak-anaknja. Dan anak-anak ini akan mengalami masa kehilangan masa kanak-kanak, masa kanak-kanaknja sendiri. Kanak-kanak Djakarta jang tak punja lapangan bergerak, tak punja lapangan bermain, tak punja daerah perkem¬bangan kedjiwaan, menjurus dari gang dan got, membunuh tiap marga-satwa jang tertangkap oleh matanja. Katak dan ketam dan belut dan burung mengalami lik¬widasi, di Djakarta! Tetapi njamuk meradjalela, dan tjitjak dan sampah. Djuga mereka ini hidup di alam ketaksenangan. Taman-taman hanja di daerah Menteng dan perkampungan baru. Engkau tahu, djadi orang apa ka¬nak-kanak sematjam ini djadinja di kemudian hari.

Engku tahu, ada pernah dibisikkan kepadaku: da¬erah jang punja taman adalah lahir dan berkembang karena telah menghisap darah daerah jang tak punja taman. Tentu sadja bisikan ini konsekwensi daripada prinsip perdjuangan kelas. Barangkali engkau tak setu¬dju, karena ini membawa-bawa politik atau pergeseran kemasjarakatan jang berwarna politik atau politik ekonomi. Mungkin djuga hanja suatu kedengkian jang tak sehat. Tapi apakah jang dapat kauharapkan dari suatu masjarakat dimana sebahagian besar warganja hidup dalam suasana tak senang, tak ada pegangan, tak ada kepertjajaan pada haridepan! Sedang para pedagang nasional djuga tak punja haridepan, karena kemanisan jang diperolehnja harikini diisapnja habis harikini pula, untuk dirinja sendiri tentu, atas nama kenaikan harga tentu, sehingga mereka mendjadi para turis di daerah kehidupannja sendiri.

Segala jang buruk berkembang-biak dengan mantiknja di Djakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runtjing¬nja dan melukai orang jang tersinggung olehnja. Tetapi wargakota jang sebelum proklamasi bersikap apatis ¬— apatisnja seorang hamba — kini kulihat apatisnja orang merdeka dengan djiwa hambanja. Bukan penghinaan, sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa

Sebagai penghinaan. Di dalam kehidupan jang tidak menjenangkan apakah jang tak terasa sebagai penghi¬naan! Dan tiap titik jang menjenangkan dianggap pudjian, atau setidak-tidaknja setjara subjektif: penga¬kuan dari pihak luaran akan kesamaan martabat dengan orang atau bangsa jang memang telah merdeka dan tahu mempergunakan kemerdekaannja. Barangkali engkau menghendaki ketegasan utjapan ini. Baiklah aku tegaskan kepadamu: memang wargakota belum lagi 25% bertindak sebagai bangsa merdeka. Anarki ketjil¬-ketjilan, sebagaimana mereka dahulu dilahirkan dalam lingkungan jang serba ketjil-ketjil pula: buang sam¬pah digot! bandjir tiap hudjan akibatnja; pendudukan tanah orang lain jang disadari benar bukan tanahnja sendiri menurut segala hukum jang ada, sekalipun sah menurut hukum jang dikarang-karangnja sendiri: ketimpangan hak tanah adalah ketimpangan penghidupan, kehidupan dan kesedjahteraan sosial. Mengapa? Kare-na besok atau lusa tiap orang dapat didorong keluar dari rumah dan pekarangannja sendiri-sendiri. Kedjo¬rokan dan kelalaian jang dengan langsung menudju ke pelanggaran ketertiban bersama. Dan djalan-djalan raja serta segala matjam djalanan umum mendjadi me¬dan permainan Djibril mentjari mangsa. Djuga ini akibat hati orang tidak senang. Bawah sadarnja bilang: dia tak dilindungi hukum — dia, baik jang melanggar maupun jang dilanggar.

Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.

Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mem¬populerkan diri agar tak tumbang dimedan penghidup¬an! Apakah jang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini jang punja prestasi interna¬sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih, diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa pendjadjahan priaji¬-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah ke¬gagalan revolusi Perantjis.

Barangkali kau menjesalkan pandanganku jang pessimistis.

Akupun mengerti keberatanmu. Asal sadja kau tidak lupa: sekian tahun merdeka ini belum lagi bitjara apa-apa bagi mereka jang tewas dalam babak pertama revolusi kita. Kalau Anatole France bitjara tentang iblis-iblis jang haus akan darah di masa pemerintahan pergulingan itu, aku bisa djuga bitjara tentang iblis-¬iblis jang haus akan kurban, akan kaum invalid peng¬hidupan dan kehidupan. Dan bila kurban-kurban dan kaum invalid penghidupan dan kehidupan ini merasa tak pernah dirugikan, itulah tanda jang tepat, bahwa iblis itu telah lakukan apa jang dinamai zakelijkheid dengan pintarnja. Dan bila iblis-iblis ini tetap apa jang biasa dinamai badjingan.

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan zakelijkheid!

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan kehidupan kesardjanaan! kepriajian dan perdagangan!

Sardjana adalah kompas kita, ke mana kita harus pergi mentjari pegangan dalam lalulintas kebendaan di kekinian dan dimasa-masa mendatang. Sardjanamu, sardjanaku, wartawanmu, wartawanku, politisimu, politisiku, melihat adanja kesumbangan, dan: titik, stop. Djuga seperti turis di dalam gelanggang kehidup-annja sendiri.

Barangkali, engkaupun akan menuduh mengapa aku tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu, bahwa engkau tidak melupakan sjarat ini: ke¬kuasaan. Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang, tetapi tidak tiap orang tahu tjaranja men¬dapatkan dan menelannja. Sematjam kutjingmu sen¬diri. Sekalipun sedjak lahir kauberi nasi tok, sekali waktu bila ditemukannja daging akan dilahapnja djuga. Djadi kau sekarang tahu segi-segi gelap dari ibukota kita ini. Segi-segi jang terang aku tak tahu samasekali, karena memang hal itu belum lagi diwahjukan kepada¬ku, baik melalui inderaku jang lima-limanja ataupun jang keenam. Tetapi aku nasihatkan kepadamu, dalam masa kita ini, djanganlah tiap hal kauanggap mengan¬dung kebenaran 100%, dengan menaksir duapuluh prosen pun kau kadang-kadang dihembalang keketje¬waan. Djuga demikian halnja dengan uraianku ini.

Aku tahu, engkau seorang patriot dalam maksud dan djiwamu, karena engkau orang daerah jang djauh dari kegalauan kota besar, kumpulan besar dusun ini. Eng¬kau akan berdjasa bila bisa membendung tiap orang jang hendak melahirkan diri dari daerahnja hendak memadatkan Djakarta. Tinggallah di daerahmu. Buat-lah usaha agar tempatmu mempunjai sekolah mene¬ngah atas sebanjak mungkin. Dan buatlah tiap sekolah menengah atas itu mendjadi bunga bangsamu dike-mudianhari: djadi sumber kegiatan sosial, sumber ke¬sedaran politik setjara ilmu, sumber kegiatan pentjip¬taan dan latihan kerdja. Pernah aku beri tjeramah di kota kelahiranku dua tahun jang lalu: mobilisasilkan tiap murid ini untuk berbakti pada masjarakatnja, untuk beladjar berbakti, untuk membelokkannja daripada intelektualisme jang hanja mengetahui tanpa ketjakapan mempergunakan pengetahuannja. Apa ilmu pasti jang mereka terima itu bagi kehidupannja di kemudianhari bila tidak berguna ?

Djangan kausangka, aku hendak mendiktekan kema¬uanku sendiri. Aku kira aku telah tjukup tua untuk menjatakan semua ini kepadamu—engkau jang ku¬harapkan djadi pahlawan pembangun daerahmu. Djuga engkau ada merendahkan petani, karena engkau lahir dari golongan prijaji—pendjadjah petani sepandjang sedjarah pendjadjahan: Djepang, Belanda, Inggris, Mataram, Madjapahit, Sriwidjaja, Mataram dan kera¬djaan-keradjaan perompak ketjil jang tidak mempunjai tempat chusus di dalam sedjarah.

Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbit¬nja dan melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas jang benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menjadari gentingnja situasi tanah¬airnja dalam lalulintas sedjarah dunia !

Kita mesti kerdja.

Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil seba¬gaimana mesti ia terima ?

Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana jang lebih penting, kemer¬dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme setjara sadar dianggap djuga se¬bagai kedjahatan atau tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau melantjong ke ibukota untuk men¬tjontoh kefatalan di sini.

Kawan, sekianlah.
Djakarta, 17-XII-1955.

Sastra Lainnya