Thursday, September 22, 2011

Analisis Struktur Sastra Populer (Cerpen)

Karya sastra yang dianalisis dalam pembahasan ini adalah cerpen “Satu Waktu Tiga Hati karya Sunny yang dimuat di Xpresi Riau Pos, 7 Maret 2010. Cerpen tersebut dilampirkan di bagian bawah setelah analisis. Analisis Struktur tersebut terdiri dari tema, peristiwa, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang, gaya bahasa dan fungsi patik.

Analisis Struktur Sastra Populer
Ferdinaen Saragih

Tema
Tema adalah gagasan pokok atau ide pikiran yang ditampilkan karya sastra dalam sebuah tulisan. Dari unsur tema, cerita ini merupakan sesuatu yang biasa, tanpa adanya suatu inovatif penulis dalam mengolahnya. Karena cerita sudah sering kita jumpai pada cerita-cerita remaja, ataupun yang ditayangkan dalam sinetron-sinetron. Cerita ini bertemakan Cinta Remaja.

Peristiwa
Peristiwa adalah tindakan tokoh atau kejadian yang mempunyai akibat pada kehidupan tokoh-tokoh. Cerpen ini bercerita tentang dua orang sahabat (Fika dan Jumi) yang sama-sama mencintai seorang lelaki (Gugun). Jumi selalu terbuka tentang rasa cintanya kepada Fika, namun Fika selalu menutup diri, tentang apa yang dirasakannya, namun pada akhirnya Gugun memilih Fika.

Alur
Menurut Kamus Istilah Sastra yang disusun oleh Panuti sudjiman, alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalani dengan seksama yang menggerakkan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan selesaian. Kepiawaian penulis dalam membangun plot sedikit mengobati cerita ini, sehingga terlihat begitu dramatis. Hal inilah yang mengena di kalangan kaum muda, seperti perasaan sedih, bahagia, setelah membacanya. Hal ini pulalah yang menjadikan cerpen ini termasuk ke dalam sastra populer.

Latar
Latar adalah ruang dan waktu terjadinya peristiwa, termasuk objek-objek, kebiasaan, pola prilaku sosial dan budaya, yang ada pada ruang dan waktu terjadinya peristiwa itu. Latar tempat dalam cerpen ini meliputi warung lesehan, Pustaka wilayah. Latar waktu saat hujan, sore dan malam hari. Latar ruang meliputi rumah dan ruang pustaka.

Tokoh dan penokohan
Tokoh cerita dapat di defenisikan sebagai subjek peristiwa dan kejadian, pelaku dan sekaligus sasaran kedua hal tersebut. Penokohan adalah cara menggambarkan tokoh di dalam cerita, terutama cara menggambarkan wataknya. Tokoh dalam cerita ini meliputi, Fika, Jumi dan Gugun.

Fika: seorang yang takut untuk berterus terang, suka terlena dengan kekurangannya sendiri. Jumi: Tokoh yang selalu terbuka kepada sahabat dekatnya, tapi pemalu kepada cowok, terlebih jika disukainya. Wanita yang kuat. Gugun: Pendiam, dan tidak suka basa-basi.

Sudut pandang
Sudut pandang adalah posisi yang di tempati anarator atau pencerita di hadapan cerita yang dipaparkannya. Sudut pandang yang digunakan penulis yaitu sebagai orang pertama, dimana pencerita menempatkan diri sebagai narator sebagai salah satu tokoh cerita yang kemudian menceritakan dirinya sendiri dan segala yang di saksikan atau yang dialami dirinya.

Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah corak yang khas yang ada pada sastra populer. Dalam cerita ini terdapat corak bahasa sehari-hari, karena di dalamnya banyak ditemukan susunan kalimat yang pendek-pendek (tidak baku).

Fungsi Fatik
Fungsi fatik dalam sastra populer terlihat dari sudut pandang, gaya bahasa, alur ataupun ansur tokoh, untur latar, unsur masalah dan tema. Fungsi fatik dalam sastra populer berfungsi untuk membangun interaksi dan kebersamaan antara si penulis dan pembaca, sehingga karya sastra tersebut seolah-olah menyatu dengan pembacanya.

Dari segi sudut pandang, pengarang mencoba masuk kedalam cerita, sehingga pembaca merasakan, seolah-olah cerita tersebut nyata dialami oleh pengarang. Hal ini terlihat dengan penggunaan kata “aku” oleh pengarang. Dari segi gaya bahasa, pengarang menggunakan bahasa sehari-hari, dengan idiom yang sering di gunakan di kalangan pembaca. Hal ini sudah terlihat di awal cerita. “Sisa-sisa hujan belum juga reda. Aku mengulurkan tangan melewati cucuran atap. Membiarkan rintik-rintik hujan berebut singgah di telapak tangan. Hiruk pikuk asap dari secangkir capucino tersaji di atas meja lesehan. Aku memalingkan pandangan. Lalu menatap Jumi.”

Dari segi alur, cerita ini kurang fokus kedalam suatu masalah tertentu. Mulai dari persahabatan, cinta, kegelisahan, dan kembali lagi tentang persahabatan. Hal seperti ini juga sering kita jumpai dalam kehidupan remaja. Unsur tokoh dalam cerita ini adalah remaja, sehingga terkait langsung dengan pembacanya yaitu kaum remaja. Unsur latar meliputi warung lesehan dan ruang pustaka. Latar tempat seperti ini juga bertujuan untuk lebih dekat dengan pembaca. Unsur masalah yaitu cerita tentang dua orang remaja putri yang mencintai seorang remaja putra, sedangkan temanya adalah cinta remaja. Masalah dan tema seperti ini juga sering kita jumpai di kalangan remaja.

Dari uraian di atas, fungsi fatik dalam cerita tersebut terlihat jelas. Sama halnya dengan sastra populer lainnya, dimana penulis mencoba menjangkau pembaca sebanyak-banyaknya, khususnya kalangan remaja.


Cerpen Satu Waktu Tiga Hati
Xpresi Riau Pos, 7 Maret 2010

Sisa-sisa hujan belum juga reda. Aku mengulurkan tangan melewati cucuran atap. Membiarkan rintik-rintik hujan berebut singgah di telapak tangan. Hiruk pikuk asap dari secangkir capucino tersaji di atas meja lesehan. Aku memalingkan pandangan. Lalu menatap Jumi.
“Aku mengatakannya karena aku tidak mampu lagi untuk menahannya. Semakin sakit jika harus terus dipendam. Terlalu cepat, Fik?” suara Jumi bergetar. Persis seperti getar-getar cinta yang saat ini memenuhi seluruh nadinya. Jumi menatapku, mengharapkan jawaban. Jawaban dari akhir ceritanya di lesehan ini. Seteguk capucino menghangatkan tenggorokanku. Aku menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutku. Berharap Jumi puas dengan jawabanku. Ia sedikit terhibur.

Lama-lama lesehan ini ramai dikunjungi orang. Dua jam sudah kami di sini. Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku lihat di layarnya. Tertera nama Gugun. Tanganku sedikit gemetar. Sebentar aku melihat Jumi. Gejolak rasa bersalah menguliti tubuhku. Lebih-lebih ketika Jumi mengutarakan seluruh perasaannya tentang Gugun kepadaku. Gugun masih terus memanggil. Sedikit gugup, aku sedikit menjauh dari Jumi. Berusaha agar ia tidak mendengar semua perbincanganku dengan Gugun. “Jum! Tunggu sebentar, yach! Dari kakak!” kataku pada Jumi sambil meninggalkannya. Tentunya ia percaya dengan kebohonganku.

“Halo Gun!” sedikit ketakutan, aku mengecilkan suara.

“Fika! Tugas Metode Penelitian sudah siap? Aku kurang paham. Tolong ajarkan, Fik!”

“A..a…ku?” tanyaku gugup

‘Ia! Please!” jawabnya dengan penuh harap

“T…ta…ta…pi, aku rasa Gugun lebih paham dari aku!”

“Please, Fik! Aku nggak paham Metode Penelitian!”

“Ok, di pustaka wilayah, besok, jam 1!” sambungku tanpa ada keraguan.

“Ok, my friend!”

****
Jumi masih menikmati pandangannya yang hampa akan tujuan. Sedari tadi ia hanya membelai-belai gelas capucino itu. Belum seteguk pun diminumnya.

“Jum, ikut nggak belajar sama…”

Sebuah petir besar menyambar. Mengejutkan semua pengunjung lesehan. Termasuk aku dan Jumi. Kami menyaksikan beberapa pengunjung lesehan yang gaduh.

“Belajar? Belajar sama siapa?” Jumi melanjutkan kata-kataku yang belum selesai.

“Belajar…belajar…yach belajar!” jawabku gugup

“Tadi katanya belajar sama…”

“Maksud aku, kita belajar sama-sama!” Aku menjadi seorang pembohong ulung di keadaan ini. Berharap Jumi percaya dengan kata-kataku yang sedikit gugup. “Apalagi minggu depan kita semester, nggak apa-apalah sesekali kita belajar bareng!” sambungku.

Jumi menganggukkan kepalanya. Sedikit keberuntungan berpihak padaku. Jumi percaya.

Untungnya, ia tidak meminta waktu belajarnya esok.

****
Esok hari. Dia sudah menungguku. Dari balik kaca bening, jelas aku melihatnya mengutak-atik sebuah laptop. Rasa bersalah itu mulai bergejolak kembali. Apakah aku sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang? Aku yang menepuk air. Sayangnya, yang basah bukan mukaku, tapi muka Jumi. Apa yang harus aku dahulukan? Perasaan aku sendiri atau perasaan sang teman. Langkah ini begitu berat. Semakin berat ketika aku semakin berada dekat dengannya.

“Hmm” Gugun melihat ke arahku. “Sibuk nich!” aku menyapanya dengan sedikit gurauan. Berusaha mengurangi rasa tegang ketika melihatnya.
Senyumnya melebar. Jujur aku katakan, enam bulan aku mengenalnya, belum pernah ia tersenyum seperti ini. Senyum yang merekah, polos, dan senyum sebuah kejujuran dengan mata yang bercahaya menatapku. Apakah ini senyum untukku, Gun?. Untukku? Jangan mimpi, Fika! Aku tidak seharusnya melihat senyum indahnya di pagi ini.

“Tukang jaga pintu, yach?”

Sentak aku terkejut mendengarnya. Berarti dari tadi ia sudah melihat aku yang mematung di pintu masuk pustaka wilayah. Wajahku memerah. Dadaku berdebar. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku. Harapanku dia tidak ingin tahu apa yang aku rasakan saat ini.

Ada perasaan berbeda ketika aku berada dekat dengannya. Aku tahu, mata kecilmu selalu memandangku, Gun. Aku merasakannya ketika kita sedang belajar, ketika kita sedang berdiskusi, atau ketika kita berdua bercanda. Mungkin dirimu tak tahu tentang itu. Gugun ingat! sebuah kalimat—karena aku menyukaimu, Fik!—keluar dari mulutmu, Gun. Kini sedang menjadi hantu dalam setiap waktu dan nafasku. Walau ketika itu kita hanya bercanda. Aku senang mendengarnya. Senang sekali!
“Hei…!” Gugun mengejutkanku. “Melamun! Mikir apa?”

“kg…kg…nggak. Nggak mikir apa-apa. Benar, aku nggak mikir apa-apa!” aku meyakinkan Gugun. Berusaha mengembalikan konsentrasi pada pelajaran yang akan kami bahas. Keringatku masih bercucuran. Bahkan keluar lebih banyak. Penyejuk ruangan tak mampu menahan keringatku. Sekuat tenaga aku berusaha fokus. Fokus Fika! Fokus! Jeritku dalam hati.

Dan untuk pertama kalinya pandangan kami berpapasan. Bertemu pada satu titik yang sangat aku harapkan.

“Gun! Lagi ada masalah yach?”

“Nggak! Kelihatannya aku ada masalah?

Aku menganggukkan kepala. “Jangan bohong!” jawabku

Aku tahu ini salah. Pesan yang dipercayakan Jumi, telah aku salah gunakan untuk kepentingan diriku sendiri. Menggali perasaan seseorang yang kuharapkan kehadirannya dengan menggunakan wayang. Sang wayang bukanlah siapa-siapa, melainkan temanku sendiri. Lalu, aku sebagai dalang akan menutup tirai setelah pentas berakhir. Tapi, aku ingin yang terbaik.

Gugun mengembalikan pandangan pada sebuah buku yang berada di tangannya.
“Fik!” Aku mendengar ia memanggilku. Mencoba berfikir positif, dia akan bertanya tentang pelajaran. Tidak lebih dari itu.

Gugun melanjutkan perkataannya yang jauh dari apa yang aku harapkan, Aku terpaksa menegakkan wajah untuk melihatnya. “Sebagai laki-laki, ketika ada seorang wanita yang mengungkapkan perasaannya pada ku, bukan main rasa senang yang aku rasakan. Nggak terlalu muluk, Fik. Tapi sayang, pe-rasaanku tidak bisa berkata ya, untuk itu.”

“Untuk itu apa?” aku pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Gugun. Jauh di dalam hatiku bertabur rasa senang karena aku telah mendapatkan jawaban Gugun yang paling dinantikan Jumi. Tapi, aku tidak boleh mengorbankan perasaan siapapun. Walau pada ujungnya, perasaanku sendiri yang akan sakit.

“Sudah sejauh mana Fika tau tentang cerita ini?” aku melihat ke arah Gugun. Rupanya dia tahu apa yang ada di pikiranku saat ini. Kali ini cara berbohong apa lagi yang harus aku lakukan.

“a…a…ku…” penyakit gugupku sering muncul jika situasinya seperti ini.

“Satu hal yang ingin ku katakan Jumi wanita yang hebat” sambungnya tanpa menunggu jawabanku. Gugun membalikkan halaman bukunya. Aku tatap wajahnya. Berpikir kalau ia akan menerima Jumi. Jumi memang wanita yang hebat, tidak seperti diriku yang terlena oleh kekuranganku sendiri.

Lalu, Gugun kembali menatapku dalam. Tatapan yang ingin menemukan sesuatu dalam diriku. Menarik semua perhatianku dengan kata-kata yang membelaiku hingga lelap dalam mimpi indah.

“Aku berada di sisi Jumi, tapi aku ingin fika yang berada di sisiku.”

****
Pukul Sembilan malam. Aku membuka laptop.
Malam ini, 14 Januari 2010. Aku sering dihadapkan pada dua pilihan. Tapi, ini lebih sulit dari apa yang pernah aku pilih sebelumnya. Maafkan aku bila telah menjadi orang di belakang layar selama ini. Bagaimana ingin taunya dirimu tentang Gugun, lebih kuat rasa ingin tahuku, Jum. Ketika kau merindukannya Jum, aku lebih merindukannya. Ketika kau bercerita padaku tentang rasa cintamu dengan dirinya, aku merasa sakit, Jum. Kusembunyikan rasa ini karena aku tahu, Jumi lebih dulu mengeja sunyi. Percayalah! Jumi tak akan terluka. Sunny, Penikmat Sastra, Kuliah dan Bekerja di Pekan baru.

Sastra Lainnya

No comments:

Post a Comment