Thursday, December 8, 2011

Menganalisis Konteks Penuturan

Konteks penuturan umpasa terdiri dari konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi meliputi unsur waktu penuturan, tujuan penuturan, peralatan yang digunakan dan teknik penuturan. Konteks budaya meliputi unsur lokasi penuturan, penutur-audiens, latar sosial budaya, kondisi sosial ekonomi.

Konteks Situasi
Konteks situasi adalah unsur atau hal-hal yang berkaitan langsung dengan peristiwa pertunjukan. Waktu penuturan umpasa pernikahan III ini dituturkan saat berlangsungnya acara adat pernikahan di Simalungun yang berjuan untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai yang sedang melangsungkan pernikahan.

Dalam acara adat pernikahan tersebut penutur umpasa menggunakan pakayan adat yang disebut dengan ulos. Ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri. Ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, sedangakan penutup kepala pria disebut gotong.

Teknik penuturan umpasa ini dituturkan secara monolog. Ketika si penutur menuturkan umpasa tersebut, pendengar (audiens) tidak membalasnya dengan berumpasa. Sehingga tidak ditemukan adanya Berbalas umpasa, namun biasanya secara sepontan pendengar (audiens) mengamininya, dengan mengucapkan imma tutu (amin).

Konteks Budaya
Lokasi pengambilan data dalam penelitian umpasa ini yaitu di Desa Sigodang, Kecamatan Panei Tongah, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Bahasa yang digunakan penduduk sehari-harinya adalah bahasa Simalungun Asli. Artinya bahasa Simalungun tersebut tidak terkontaminasi dengan bahasa batak lainnya, ataupun bahasa Indonesia.

Penutur dan audiens memiliki hubungan yang sangat terikat dalam penuturan umpasa pernikahan ini. artinya setelah penutur menuturkan umpasa pernikahan ini, orang-orang (audiens) yang menyaksikan pernikahan tersebut secara sepontan mengamininya, dengan mengucapkan imma tutu (amin). Hal ini melengkapi cita-cita Si penutur umpasa tersebut, yaitu agar kedua mempelai tersebut oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan bahtera rumah tangganya.

Orang yang menuturkan umpasa ini adalah pihak boru (pihak dari keluarga perempuan). Audiens dalam penuturan umpasa ini adalah penduduk desa dan keluarga terdekat yang diundang hadir. Pakaian yang digunakan adalah pakayan adat yang disebut dengan ulos. Ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri. Ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, sedangakan penutup kepala pria disebut gotong.

Latar sosial budaya meliputi peristiwa dan kebiasaan yang melatar belakangi penuturan umpasa. Umpasa Pernikahan ini dituturkan ketika memenuhi adat pernikahan, atau di Simalungun disebut mangadati. Acara adat dalam sebuh pernikahan adalah merupakan kewajiban, karena keluarga yang belum menerima adat pernikahan ini tidak boleh menerima hak-haknya di dalam adat. Misalnya seorang keluarga yang belum melaksanakan adat pernikahan, tidak boleh menikahkan anaknya dengan adat pernikahan, dengan demikian keluarga tersebut merasa terkucilkan diantara masyarakat lainnya di daerah tersebut. hal ini menjadi beban mental bagi sebuah keluarga yang belum melaksanakan kewajiban adatnya.

Dalam Pernikahan Simalungun, Raja parhata (pemuka adat) merupakan pemeran utama dalam acara pernikahan mulai dari awal hingga akhir pernikahan. pemuka adat berperan dalam memberikan waktu kepada pihak perempuan dalam melakukan kewajiban adatnya. Setiap pihak keluarga yang berkepentingan mendapatkan kesempatan untuk memberikan nasehat dan menuturkan umpasa yang berhungan dengan pemberian doa restu, salah satunya umpasa pernikahan III ini.

Pada saat adat pernikahan berlangsung, pihak keluarga perempuanlah yang berkewajiban melaksanakan adat kepada pihak laki-laki. Semua pihak perempuan yang berkepentingan memberikan ulos kepada mempelai. Setiap keluarga dari pihak perempuan yang memberikan ulos tersebut dibarengi dengan pemberian nasehat, dan diakhiri dengan menuturkan umpasa ini sebagai penutup nasehat.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat penutur yang peneliti teliti, yang peneliti lihat dari kemampuan ekonomi, maupun tingkat pendidikan digolongkan kedalam masyarakat menengah kebawah, namun sebagian besar golongan masyarakat kebawah. Masyarakat penutur mayoritas menopang hidupnya dengan mengolah kebun (bertani).

Pendidikan masyarakat penutur sebagian besar lulusan SMP. Namun, hal ini semakin hari semakin berubah. Perkembangan zaman meningkatkan kesadaran masyarakat penutur semakin tinggi untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi. Generasi penutur sudah banyak yang mengenyam pendidikan hingga SMA bahkan sampai perguruan tinggi.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Analisis Isotopi yang Membentuk Tema

Analisis tema menggunakan teori isotopi yang dikemukakan oleh Greimas. Dalam kajian ini, suatu kata atau frasa akan diidentifikasi sebagai sesuatu yang mewakili suatu gagasan. Dalam umpasa Pernikahan III tersebut ditemukan beberapa isotopi, yang mendukung tema.

Dalam umpasa ini terdapat kata yang masuk dalam isotopi manusia, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Manusia


Komponen makna bersama dari isotopi manusia yaitu, tubuh/roh, berakal budi, aktivitas. Hal ini menunjukan bahwa nami mampu melakukan sesuatu hal, karena dari komponen makna bersama manusia (nami) memiliki kompenen tubuh/roh, berakal budi dan aktivitas.

Dalam umpasa pernikahan ini, terdapat isotopi alam, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Alam


Komponen makna bersama dari isotopi alam adalah angkasa, bumi dan kehidupan. Kata lading dan aek mengandung komponen makna yang berkaitan dengan alam. Komponen makna bersama yang paling menonjol adalah bumi dan kehidupan. Isotopi alam ini mengidentifikasikan bahwa umpasa pernikahan ini digunakan untuk kehidupan yang ada di bumi. Artinya, digunakan untuk kebahagiaan hidup di bumi. Sungai dan ladang sebagai sumber kehidupan, air sebagai sumber pelepas rasa haus, dan ladang sebagai sumber pelepas rasa lapar. Hal ini tampak pada komponen makna bersama, yaitu makna bersama kehidupan.

Dalam umpasa pernikahan ini terdapat isotopi kekuatan, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Kekuatan


Komponen makna bersama dari isotopi kekuatan, yaitu Tuhan, Gaib dan sifat. Kata pamasu-masuan dan doding mengandung komponen makna yang berkaitan dengan kekuatan. Komponen makna yang paling menonjol adalah gaib dan sifat.

Selain isotopi-isotopi tersebut, terdapat juga isotopi tumbuhan, hal itu tampak pada tabel berikut.

TABEL
Isotopi Tumbuhan


Komponen makna bersama dari isotopi tumbuhan adalah akar/batang, bunga/daun, tumbuh. Kata haladi memiliki makna keladi yang memiliki komponen makna bersama akar/batang, bunga/daun, tumbuh.

Isotopi-isotopi tersebut dianalisis berdasarkan makna bersama. Dari analisis isotopi-isotopi di atas akan membentuk motif-motif yang nantinya akan membentuk tema secara keseluruhan pada isi umpasa pernikahan III ini. Isotopi tumbuhan dan isotopi alam membentuk motif kekuatan alam (gaib) yang menyertai isi umpasa pernikahan tersebut. Isotopi manusia dan isotopi kekuatan membentuk motif aktivitas manusia yang berhubungan dengan pemberian doa restu.

Semua isotopi yang dianalisis merupakan sesuatu kesatuan yang membentuk motif-motif yang mengerucut pada pembentukan sebuah tema teks. Isotopi yang telah dianalisis di atas meliputi isotopi tumbuhan, isotopi alam, isotopi manusia dan isotopi kekuatan. Isotopi tersebut membentuk dua motif. Motif yang pertama yaitu, kekuatan alam (gaib) yang menyertai umpasa pernikahan dan motif yang kedua yaitu, aktivitas manusia yang berhubungan dengan pemberian doa restu. Dari analisis di atas disimpulkan bahwa teks umpasa pernikahan III tersebut merupakan teks yang berisi doa restu yang memiliki kekuatan alam (gaib) yang berkaitan dengan aktivitas manusia dengan tujuan memberikan doa restu. Hal gaib tersebut sudah digantikan oleh kekuatan Tuhan, setelah masuknya agama ke Simalungun. Untuk lebih jelasnya mengenai pembentukan motif-motif berdasarkan isotopi-isotopi yang dianalisis hingga membentuk tema, maka berikut bagan dari analisis isotopi-isotopi di atas.

BAGAN
Pembentukan Tema Umpasa Pernikahan III


Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Menganalisis Majas

Selain diksi ditemukan juga penggunaan majas dalam umpasa Pernikahan III. Untuk lebih jelasnya, berikut analisis majas.

Repetisi
Dalam umpasa ini ditemukan repetisi, yaitu perulangan bunyi, suku kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting. Pengulangan ini biasanya memberikan efek penekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Hal itu tampak pada larik berikut.

Onma lading haladi
Lading aek ronuan

Dalam kedua larik tersebut terdapat pengulangan kata lading. Pengulangan kata lading terjadi pada larik pertama dan kedua. Repetisi juga tampak pada kata doding. Hal itu tampak pada larik berikut.

Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Pengulangan kata doding terjadi pada larik ketiga dan keempat. Selain repetisi kata lading dan doding, ditemukan juga repetisi kata onma. Pengulangan Kata Onma terjadi pada larik pertama dan ketiga. Hal itu tampak pada larik berikut.

Onma lading haladi
Onma doding nami

Pengulangan kata lading, doding dan onma memberikan efek ritmis (berirama) sehingga mewujudkan keidahan dan keharmonisan bahasa umpasa yang bertujuan untuk menciptakan sebuah kesatuan dalam membangun sebuah unsur stilistik dalam karya sastra lisan.

Selain memberikan efek ritmis, juga memberikan efek intensitas (kedaan tingkatan) pada kata lading, doding dan onma. Pengulangan kata lading, doding dan onma menunjukkan penegasan mengenai apa yang ingin ditunjukkan oleh si penutur kepada si penerima umpasa, yang dinyatakan dengan kata lading, doding dan onma tersebut.

Metafora
Selain majas tersebut di atas, terdapat juga majas metafora. Metofora adalah perbandingan tanpa kata perbandingan. Metafora tampak pada larik berikut.

Onma lading haladi
Lading aek ronuan
Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Larik yang termasuk dalam metafora terdapat pada sampiran umpasa. Frasa lading haladi (ladang keladi) diumpamakan dengan doding nami (nyanyian kami), sedangkan frasa aek ronuan (sungai ronuan) diumpamakan dengan doding pamasu-masuan (nyanyian doa restu).

Penggunaan frasa Aek ronuan merupakan pengungkapan teks yang puistis, karena tidak hanya mempunyai makna yang sekadar denotasi, tetapi memiliki makna secara konotasi. Secara konotasi Aek ronuan bisa bermakna sungai pengharapan, sungai pemberian dan air kehidupan. Efek dari penggunaan metofora ini adalah agar teks umpasa tampak dan terdengar lebih indah, disamping hakikat atau esensi dari teks ini, yaitu pengejaran makna yang lebih dalam.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Menganalisis Diksi

Pada umpasa pernikahan III tersebut bahasa yang digunakan dibagi menjadi dua tingkatan bahasa. Yang pertama bahasa simbol. Artinya, bahasa yang digunakan dalam umpasa ini adalah bahasa simbol-simbol alam yang memiliki makna secara konotasi. hal ini dapat dilihat pada bagian sampiran berikut:

Onma lading haladi
Lading aek ronuan

Kata lading haladi ‘ladang keladi’ berkonotasi dengan ‘orang banyak’, sedangkan kata aek ronuan ‘sungai ronuan’ berkonotasi dengan ‘limpahan berkat’. Pilihan kata dengan menggunakan simbol-simbol alam tersebut memiliki kekuatan makna yang sangat kuat, dan erat dengan ciri kepuitisan bahasa yang terkandung didalamnya, dengan artian umpasa ini memiliki pemaknaan yang lebih dalam, dan teks tampak dan terdengar lebih indah.

Yang kedua, menggunakan bahasa biasa. Artinya, bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa komunikasi untuk kalangan masyarakat secara luas. ha ini untuk kelancaran proses komunikasi antarara si penutur dengan kepada siapa umpasa itu dituturkan, dengan kata lain umpasa yang dituturkan dapat dengan mudah dipahami. hal ini dapat dilihat pada bagian isi berikut:

Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Ragam bahasa yang digunakan dalam bagian isi umpasa ini lebih komunikatif, dibandingan umpasa pada bagian sampiran. Pada bagian sampiran pemilihan kata dan simbol-simbol alam lebih ketat, sedangkan pada bagian isi menggunakan bahasa biasa, yaitu bahasa sehari-hari yang dipergunakan masyarakat.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Analisis Formula Irama

Umpasa Pernikahan selalu dituturkan dengan suara yang jelas, Artinya, penutur umpasa tersebut memiliki artikulasi yang masih baik. Hal ini bertujuan agar audiens tersebut dapat memahami dan selalu mengingatnya. Pada hakikatnya umpasa ini dituturkan dengan irama yang sama, mengikuti kebiasaan pola irama yang sering diucapkan oleh seseorang pemuka adat. Hal ini disebabkan kebiasaan meniru pemimpin yang selalu dianggap paling pandai menguasai adat di masyarakat.

Dalam analisis irama, akan dilihat pada suku kata yang memiliki nada panjang, sedang dan pendek. Kemudian akan dilanjutkan dengan analisis tinggi, sedang dan rendah nada pada setiap suku kata. Untuk lebih jelasnya, teks yang dianalisis diberi tanda tertentu yaitu: tanda (–) menandakan nada yang panjang, tanda (≥) menunjukan nada yang sedang, tanda (∩) menandakan nada pendek. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut:

TABEL
Formula Irama

Formula irama pada teks umpasa pernikahan III. Dari tabel di atas diperoleh gambaran yang lebih spesifik. Gambaran tersebut diantaranya adalah panjang nada yang dipakai dalam penuturan teks ini didominasi oleh nada pendek (∩) yang mendominasi semua larik. Sedangkan nada-nada sedang (≥) mendominasi setiap akhir larik.

Untuk lebih jelas mengenai nada tinggi, sedang dan rendah pada setiap suku kata, teks yang dianalisis diberi tanda tertentu yaitu: tanda (1) menandakan nada rendah, tanda (2) menandakan nada sedang, dan tanda (3) menunjukan nada yang tinggi. Analisis sebagai berikut:


Dari analisis di atas diperoleh gambaran bahwa tinggi rendah nada saat teks ini dituturkan didominasi oleh nada rendah (1). Nada-nada sedang (2) ada di beberapa suku kata dan nada tinggi (3) juga terdapat dibeberapa suku kata. Nada tinggi (3) menandakan penekanan pada pelafalannya. Penekanan pada teks umpasa terjadi pada suku kata-suku kata berikut:

Onma lading haladi
Lading aek ronuan
Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Suku kata yang bercetak tebal menandakan adanya penekanan (stressing) pada pelafalannya. Artinya, si penutur umpasa III ini melafalkan teks umpasa dengan nada-nada tertentu yang mengidentifikasikan adanya penekanan pada suku kata-suku kata tersebut. Penekanan ini juga merupakan sebuah indikasi tersendiri bagi si penutur untuk memberikan efek penegasan. Khususnya pada akhiran kata Onma, yaitu suku kata ma yang memiliki tingkat penekanan sangat tinggi, yang terdapat pada larik pertama dan kedua. Kata ma (lah) disini menjadi penegas penunjuk suatu hal kepada audiens atau si penerima umpasa. Kata ma tersebut menegaskan frasa lading haladi (ladang keladi) dan frasa doding nami (nyanyian kami).

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Analisis Formula Bunyi

Adapun formula bunyi yang dibicarakan adalah rima, asonansi dan aliterasi. Untuk lebih jelasnya, berikut analisisnya.

Rima
Dalam umpasa pernikahan III ini juga ditemukan pasangan kata yang membentuk rima bergantung pada bunyi yang mengakhirinya. Hal inilah yang menjadikan umpasa ini indah dan enak didengar. Untuk lebih jelas perhatikan teks berikut:

Onma lading haladi
Lading aek ronuan
Onma doding nami
Doding pamasu-masuan

Rima dalam umpasa tersebut membentuk rima bersilang. baris pertama berima dengan baris ketiga, sedangakan baris kedua berima dengan baris keempat. Kata haladi berpasangan dengan kata nami, kedua kata ini memiliki rima tidak sempurna, karena hanya sebagian suku kata akhir yang sama. Kata ronuan berpasangan dengan kata pamasu-masuan. Kedua kata ini memiliki rima yang sempurna, karena seluruh akhir suku kata berirama sama.

Selain rima bersilang ditemukan juga rima sebaris. Hal ini ditunjukan dengan adanya pasangan bunyi yang sama dalam sebaris. Untuk lebih jelas perhatikan teks berikut.

Onma lading haladi
Onma doding nami

Pada larik pertama, suku kata ding pada kata lading memiliki pasangan bunyi dengan suku kata di pada kata haladi. kedua kata ini membentuk rima sempurna dalam sebaris. Pada larik ketiga, suku kata ding pada doding memiliki pasangan bunyi dengan suku kata mi pada kata nami. Kedua kata ini memiliki rima yang tidak sempurna. Pasangan bunyi yang sama (berima) tersebut juga memberikan efek keindahan dalam umpasa.

Asonansi dan Aliterasi
Pada larik pertama, terjadi pengulangan bunyi vokal /a/ dan vokal /i/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan. Bunyi vokal /o/ dan /a/ berkombinasi dengan konsonan /n/ bersuara dan /m/ bersuara pada kata /onma/. Vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /l/ bersuara, /d/ bersuara dan /ng/ bersuara nasal pada kata /lading/. vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /h/ tak bersuara, /l/ bersuara dan /d/ bersuara pada kata /haladi/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama, kedua dan ketiga menyebabkan asonansi lancar. Paduan bunyi vokal /i/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua dan ketiga menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah mengalami hentakan. Sedangkan bunyi vokal /o/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansi lancar.

Larik kedua, terjadi pengulangan bunyi vokal /a/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan. Vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /l/ bersuara, /d/ bersuara letup dan /ng/ bersuara nasal pada kata /lading/. Vokal /a/ dan /e/ berkombinasi dengan konsonan /k/ tak bersuara pada kata /aek/. Vokal /a/, /o/ dan /u/ berkombinasi dengan konsonan /r/ bersuara getar dan /n/ bersuara nasal pada kata /ronuan/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama, kedua dan ketiga menyebabkan asonansi lancar. Vokal /i/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansinya seolah-olah mengalami hentakan. Vokal /o/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata ketiga menyebakan bunyi asonansi lancar. Vokal /u/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan pada kata ketiga menyebabkan asonansi lancar.

Pada larik ketiga, terjadi pengulangan bunyi vokal yang sama, yaitu vokal /o/, /a/ dan /i/. Vokal /a/ dan /o/ berkombinasi dengan konsonan /n/ bersuara nasal dan /m/ bersuara nasal pada kata /onma/. Vokal /o/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /d/ bersuara letup dan /ng/ bersuara nasal pada kata /doding/. Vokal /a/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /n/ bersuara nasal dan /m/ bersuara nasal pada kata /nami/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama dan ketiga menyebabkan bunyi asonansi lancar. Paduan bunyi vokal /o/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansi lancar, sedangkan vokal /o/ pada kata kedua menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah mengalami hentakan. Paduan bunyi Vokal /i/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua seolah-olah mengalami hentakan, sedangkan vokal /i/ pada pada kata ketiga menyebabkan bunyi asonansi lancar.

Pada larik keempat, terjadi pengulangan bunyi vokal /a/ dan /u/ yang berkombinasi dengan beberapa konsonan. Vokal /o/ dan /i/ berkombinasi dengan konsonan /d/ bersuara letup dan /ng/ bersuara nasal pada kata /doding/. Vokal /a/ dan /u/ berkombinasi dengan konsonan /p/ tak bersuara, /m/ bersuara nasal, /s/ tak bersuara dan /n/ bersuara nasal pada kata /pamasu-masuan/. Paduan bunyi vokal /a/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua menyebabkan bunyi asonansi kurang lancar. Paduan bunyi vokal /u/ dengan beberapa konsonan pada kata kedua menyebabkan bunyi asonansi kurang lancar. Paduan bunyi vokal /o/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah ada hentakan. Paduan bunyi vokal /i/ dengan beberapa konsonan pada kata pertama juga menyebabkan bunyi asonansi seolah-olah ada hentakan.

Untuk lebih jelas hasil analisis bunyi, dibawah ini dicantumkan bentuk-bentuk bunyi vokal dan bunyi konsonan teks umpasa III.

TABEL
Bunyi Vokal dan Bunyi Konsonan


Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pengulangan bunyi vokal /a/ terjadi pada setiap larik dan diulang sebanyak tiga belas kali dalam keseluruhan larik. Formula bunyi vokal /a/ tersebut menghasilkan bunyi efek pengucapan yang ringan, karena bunyi vokal /a/ diucapkan tidak mengalami hambatan pada alat bicara. Pengulangan vokal /a/ pada teks umpasa pernikahan III ini juga menimbulkan efek ‘pengingat’ yang sangat terasa dan berpengaruh besar kepada si penutur maupun kepada audiens. Artinya, dengan pengulangan vokal /a/ pada teks ini dapat memudahkan proses penghafalan dan penciptaan teks umpasa. Selain itu, pengulangan vokal /a/ juga menggambarkan kegembiraan kepada keluarga kedua belah pihak.

Aliterasi yang paling sering muncul adalah bunyi konsonan /d/ bersuara letup. Bunyi Konsonan ini sangat terasa sekali pada setiap larik. Bunyi ini diulang sebanyak tujuh kali dalam keseluruhan larik. Selanjutnya konsonan /n/ dan /m/ bersuara nasal, kedua konsonan ini diulang sebanyak lima kali dalam keseluruhan larik. Yang terakhir adalah konsonan /ng/. Konsonan ini juga terdapat pada setiap larik, diulang sebanyak empat kali. Formula ini memberikan efek ‘pengingat’ dengan kata lain formulasi ini menjadi alat pembantu pengingat dalam mempermudah proses penghafalan dan penciptaan teks umpasa.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)

Formula Kata antar Larik

Pada teks umpasa pernikahan III ini, ditemukan formula kata. Pengulangan atau formula satu kata antar larik yang terdapat pada kalimat pertama /onma doding nami/ (larik pertama), yaitu Kata /onma/ pada awal larik. Kata ini mengalami pengulangan di awal kalimat ketiga /onma doding nami/ (larik ketiga). Pengulangan kata /onma/ di awal larik pertama dan ketiga menimbulkan efek penekanan untuk menunjukkan suatu harapan si penutur yang berpengaruh kepada audiens atau dengan kata lain kepada siapa umpasa itu dituturkan.

Pengulangan atau formula satu kata antar larik terdapat juga pada kalimat pertama /onma lading haladi/ (larik pertama), yaitu kata /lading/ di tengah larik. Kata ini mengalami pengulangan atau adanya formula kata di awal kalimat kedua /lading aek ronuan/ (larik kedua). Pengulangan kata /lading/ di tengah larik pertama dan di awal larik kedua menimbulkan efek penekanan tentang apa yang ditunjukkan si penutur kepada audiens, atau dengan kata lain kepada siapa umpasa itu dituturkan.

Formula satu kata antar larik ada juga pada kalimat ketiga /onma doding nami/ (larik ketiga), yaitu kata /doding/ di tengah larik. Kata ini mengalami pengulangan atau adanya formula kata di awal kalimat keempat /doding pamasu-masuan/ (larik keempat). Pengulangan kata /doding/ di tengah larik ketiga dan di awal larik keempat menimbulkan efek penegasan yang menguatkan maksud yang ingin ditunjukkan si penutur kepaada audiens atau dengan kata lain kepada siapa umpasa itu dituturkan.

Membaca lebih lengkap, kunjungi Daftar Isi Skripsi

Artikel Terkait (Skripsi)